Menonton Pengantin Jawa (5), The Convention
Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1), (2), (3) dan (4).
Sampai di rumah pak Sastro kembali, mak comblang membuka pembicaraan yang pada intinya mengusulkan agar kesempatan ini tidak lepas begitu saja. Jika sampai lepas, semua akan rugi. Semangat Tono yang sudah bersedia kawin, juga akan pudar. Pak Sastro akan kesulitan lagi menggiring Tono agar bersedia Read the rest of this entry
Menonton Pengantin Jawa (4)
Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1), (2) dan (3).
Assalamualaikum, warahmatullohi wabarohkatuh. Suara berat kang Kromo membuka pembicaraan di rumah pak Sejo siang itu. Ia mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu yang hadir dan mempersilahkan menikmati hidangan yang telah tersedia, sebelum acara pertemuan itu dilanjutkan. Read the rest of this entry
Ngono Ya Ngono, The Span of Tolerant
Apa yang membuat manusia hidup, mungkin ambisinya. Dengan ambisinya itu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan seterusnya. Kebutuhan itu harus dicari sampai dapat, atau bahasa heroiknya diperjuangkan untuk mencukupi hidupnya. Dalam memperjuangkan itulah sering terjadi kompetisi yang karena langkanya persediaan sumber-sumber ekonomi, menimbulkan friksi atau persinggungan yang tidak sehat. Begitu persinggungan memuncak lalu melupakan Read the rest of this entry
Menonton Pengantin Jawa (3), Bibit, Bobot, Bebet
Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1) dan (2).
Ada perihal penting yang perlu diingatkan lik Parmin, tentang ajaran bibit, bobot, bebet kepada pak dan bu Sastro. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian pak Sastro. Bibit, merujuk pada strata sosial dan moral calon besan, serta kesehatan calon menantu. Bobot, mengandung pengertian tingkat pendidikan calon menantu, juga strata ekonomi calon besan. Bebet, dimaksudkan mempertimbangkan latar belakang moral calon besan dan calon menantu. Di kalangan masyarakat Jawa sangat dipahami pepatah Read the rest of this entry
Menonton Pengantin Jawa (2): Hipokrit?
Ini adalah lanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1): The Egaliteranism
Terjadi pembicaraan yang hangat di rumah pak Sastro (orang tua Tono) untuk memilih calon isteri bagi Tono. Ada mak comblang, pak dan bu Sastro, lik Parmin dan Tono sendiri. Profil gadis yang ditawarkan hanya mengandalkan cerita mak Comblang belaka dan pas foto hitam-putih 3×4. Ada tiga gadis yang ditawarkan mak comblang, semua diceritakan dengan jelas profilnya. Meskipun pak dan bu Sastro ikut nimbrung bicara tetapi sama sekali tidak mendominasi keputusan. Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada Tono untuk memilih. Bahwa Tono mau menikah itu saja sudah sangat menggembirakan pak dan bu Sastro. Karena sulit memilih, dan Read the rest of this entry
Menonton Pengantin Jawa (1): The Egalitarianism
Saya kabarkan kepada pembaca yang budiman, bahwa keponakan kita, Tono sudah menginjak dewasa. Semenjak lulus dari SMP, Tono tidak sekolah lagi. Tetapi jangan salah sangka, Tono bukan tipe anak yang pemalas atau bodoh, melainkan alasan ekonomi yang memaksa ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Tono tipe pemuda yang rajin bekerja. Ia membantu orang tuanya mengolah sawahnya yang tidak seberapa luas. Bahkan boleh dibilang Tono Read the rest of this entry
Mimpi Orang Jawa
Siapa pun pasti pernah mimpi, kecuali orang yang tidak pernah tidur (ada nggak ya?). Dan selalu saja ada tafsir mimpi. Namanya juga tafsir, selain sangat samar, selalu ada pengaruh budaya dan lingkungan yang melatabelakanginya. Masing-masing bangsa atau etnis mempunyai tafsir dan pengertiannya sendiri-sendiri tentang mimpi. Dan itu sah-sah saja. Di Jawa, secara umum ditafsirkan, Read the rest of this entry
Becik Ketitik Ala Ketara, The Absolute
Ungkapan ini sangat familier dikalangan orang Jawa terutama ketika orang memperbincangkan masalah moral atau etika. Terjemahan bebasnya “perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ketahuan juga”. Emas di lumpur betapa pun tetap bernilai tinggi. Sebaliknya besi berkarat betapa pun di bungkus sutera indah tetap rendah nilainya.
Perbuatan baik atau buruk, cepat atau lambat akan ketahuan, tidak perduli Read the rest of this entry
Kupu-kupu Putih
Ia hanya membawa ramuan daun sirih dan kapurnya untuk dikunyah nanti. Sehari-hari ia hanya duduk di tepi sungai dekat kuburan sambil mengunyah sirih. Angin semilir menyeka pelan-pelan keringatnya. Daun-daun pohon trembesi berbisik lembut melantunkan senandung ketentraman, sementara gesekan pohon bambu menimpali, mengatur irama. Riak gemuruh air sungai Read the rest of this entry
Kalimasada dan Pancasila
Malam sangat sunyi, semua kehidupan di pertapaan Saptohargo sudah terlelap tidur. Gelap malam itu berselimut kabut pegunungan yang beku, bahkan angin pun malas bertiup. Gerimis hujan sejak sore tadi masih menyisakan basah yang dingin di dedaunan dan di atap pertapaan. Para cantrik sudah terlelap tidur karena kelelahan latihan beladiri siang tadi. Dengan tertatih-tatih di kegelapan Read the rest of this entry

Bisa didapatkan ditoko buku terdekat atau hubungi serbajawa@yahoo.co.id



