Tersedia Buku Peribahasa Jawa
Ditulis dalam Lain - Lain
Kamus Jawa
Langit:
langit, tawang, akasa, boma, bomantara, awang-awang, dirgantara, gegana, cakrawala, jumantara, wiyati, awiyat, wihaya.
Matahari:
srengéngé, andakara, arka, dinakara, bagaskara, bagaspati, surya, baskara, datopati, déwangkara, diwangkara, diwasasri, giwangkara, kalandara, radité, raditya, rawi, prabakara, prabangkara, pradanggapati, pratangga, pratanggakara, sawita (r), suwandagni, wé, wiwaswan, aruna, banu.
Awan:
mendhung, méga, irawan, ima, imantaka, jaladra, jaladara, himawan, himawat, toyanta, warsajaloda, ambuda, ambuwaha.
Angin:
angin, barat, bayu, bajra, samirana, maruta, sindhung, riwut, pawana, lésus, prabancana, nilapracandha, prahara, wata, warayang, ampuhan.
Gunung:
gunung, acala, ancala, agra, arga, ardi, dri, adri, redi, arditi, hardi, aldaka, giri, himalaya, mèru, pancala, parwata, prawata, prabata, parbata, wukir, siladri, srenggi.
Bumi:
bumi, bawana, buwana, bantala, basundara, basundari, wasundari, butala, buntala, dharani, jagad, lemah, kisma, mandhala, bumandhala, marcapada, medini, pratala, pratiwi, pertiwi, waksudha.
Air:
banyu, tirta, jahnawi, jahni, jala, toya, kalaka, ranu, sindu, warih, hèr, wé, udaka, apah.
Ditulis dalam Kamus Jawa | Tag:kamus, Kamus Jawa
Paribasan
Akèh gludhugé kurang udané.
Akèh: banyak. Gludhug: petir. Kurang: kurang. Udan: hujan.
• Jika banyak petir, biasanya kurang hujannya.
• Jika orang banyak janjinya, biasanya jarang menepati.
(dikutip dari buku “Kamus Lengkap Peribahasa Jawa, karya Sutrisno Sastro Utomo, terbitan UII Press Yogyakarta”).
Ini sama seperti peribahasa yang sering kita dengar “Tong kosong nyaring bunyinya”. Dalam kontek kehidupan politik saat ini terutama menjelang pemilu presiden 2009, ke hadapan masyarakat akan disuguhi panggung kompetisi, yang selain menguras tenaga juga menguras dana yang tidak sedikit. Siapa atau apa pun yang berkompitisi, kelak jika menang, upaya untuk mengembalikan investasi adalah tindakan yang mustahil ditolak. Oleh karenanya pada setiap kesempatan selalu diucapkan janji-janji, yang bahkan orang awam politikpun akan mudah berpikir, bahwal hal itu mustahil bisa tercapai dalam kurun waktu lima tahun. Seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, menurunkan harga BBM, pemerintahan yang bebas korupsi, menjaga keutuhan tanah-air dan sebagainya, dan sebagainya.
Sebenarnya alam tidak pernah berhenti memberi pelajaran kepada manusia seperti bunyi peribahasa tersebut, tetapi manusia sering lupa karena terbuai janji-janji manis itu.
Ditulis dalam Tak Berkategori | Tag:jawa, paribasan, peribahasa jawa
Sugeng Rawuh
Sugeng Rawuh, blog ini adalah tulisan saya mengenai kehidupan jawa yang banyak mengandung budaya yang tinggi. Semoga bisa bermanfaat bagi semua nya.
Ditulis dalam Lain - Lain | Tag:bahasa jawa, peribahasa jawa, primbon, jawa

