Ilir-ilir (1), The Character Building
Anak-anak kecil jaman dulu pasti bisa menyanyikan tembang Jawa ini karena diajarkan di tingkat Sekolah Rakyat (SR, sekarang Sekolah Dasar-SD). Tetapi karena masih taraf anak-anak, bu Guru belum perlu memberikan arti dari tembang tersebut. Konon (belum sahih rujukan literalnya), tembang ini karangan Sunan Kalijaga yang sedang mengajarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Kalau ditilik konteksnya agaknya ada kebenarannya, karena selain berkeahlian agama Islam, Sunan Kalijaga juga ahli dalam seni Jawa, sehingga kalau dikatakan tembang ini karangan Sunan Kalijaga, agaknya mengandung banyak kebenaran. Banyak pakar menafsir tembang ini dalam konteks ajaran Islam, dan itu sahih sekali. Saya sangat setuju. Namun karena awal periode penyebaran agama Islam sudah lama kita lewati, dan sekarang dalam periode membangun karakter bangsa, masih terbuka untuk menafsir tembang tersebut dalam konteks kebangsaan. Lebih-lebih ketika bangsa ini sedang dalam masa kesuraman moral dan etika.
Inilah syair “ILIR-ILIR” selengkapnya.
“lir-ilir, lir-ilir tanduré wis sumilir; Bangunlah wahai bangsa Indonesia, karena kemerdekaan telah engkau pegang,
tak ijo royo-royo tak sengguh temantèn anyar; Negeri ini begitu indah dan makmur, maka beruntunglah bangsa yang mendiaminya,
cah angon-cah angon penèkna blimbing kuwi; Berjuanglah sekuat tenaga, dan raihlah kejayaan di massa depan,
lunyu-lunyu penèkna kanggo masuh dodot ira; Sungguh tidak mudah untuk berjuang, bermodalah keikhlasan dan kejujuran hati,
dot ira-dot ira kumitir bedhahing pinggir; Sadarilah bahwa perjuangan kadang-kadang perlu pengorbanan,
dom ana-jlumat ana kanggo séba mengko soré; Oleh karena itu tabahkanlah hatimu, satukan tekadmu, untuk menyongsong kejayaan di masa akan datang,
pupung padhang rembulané, pupung jembar kalangané; Selagi engkau masih muda dan kuat, selagi kesempatan masih terbentang luas di hadapanmu,
ya suraka aaa …. aaa… surak horéééé….”; Kelak jika kemenangan telah engkau raih, syukurilah dan jagalah agar anak cucumu ikut menikmati.
Untuk membangun watak bangsa (character building), tak perlu harus mencari rujukan dari budaya bangsa lain-meskipun tidak dilarang-melainkan tak terbilang banyaknya rujukan lokal yang nilai kearifannya begitu tinggi dan selaras (matching-nyekrup) dengan watak bangsanya sendiri.
Selain memperlihatkan harapan, dalam tembang ini juga menyadarkan adanya rintangan-rintangan, pengorbanan, kesempatan dan peluang dalam perjuangan. Sesuatu yang secara alamiah pasti akan ditemui seseorang yang sedang memperjuangkan cita-citanya.
Kearifan tembang “ilir-ilir” sangat relefan sekali kita angkat, manakala bangsa kita saat ini dalam masa paceklik panutan moral dan etika dalam berbangsa dan bernegara. Saya tak dapat membayangkan bagaimana para pendiri bangsa ini (di alam sana) menangis melihat kelakuan kita dalam meneruskan perjuangan yang telah beliau rintis dengan darah dan air mata.
Tembang ini masih terbuka lebar untuk ditafsir ulang oleh pembaca, sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
Silakan.
Posted on December 3, 2011, in Tembang and tagged Character Building, Ilir-ilir. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Bisa didapatkan ditoko buku terdekat atau hubungi serbajawa@yahoo.co.id




Pingback: Ilir-ilir (2), The Humanism « SERBA JAWA