Ilir-ilir (2), The Humanism

Seperti yang saya ceritakan di permulaan tulisan (Ilir-ilir 1), tembang ilir-ilir ini konon karya Sunan Kalijaga yang sedang mengajarkan agama Islam di tanah Jawa. Kepiawaian Sunan Kalijaga, selain ilmu agama Islam ialah kesenian Jawa. Oleh karenanya ketika mengajarkan agama Islam beliau menggunakan pendekatan kesenian. Banyak sekali peninggalan Sunan Kalijaga baik yang berupa benda-benda bersejarah seperti gamelan dan karya sastra yang kental dengan nuansa seni. Sesuai dengan jamannya, karya sastra tersebut tidak langsung menohok kepada persoalan yang sedang mengemuka di masyarakat, melainkan menggunakan tamsil atau perumpamaan. Sehingga untuk memahaminya, memerlukan ketrampilan tersendiri. Salah satunya adalah tembang “ilir-ilir” ini. Karena berupa tamsil maka terbukalah multi tafsir sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing orang. Seperti pada tulisan terdahulu, saya menafsir dengan tema kebangsaan, dibawah ini saya coba menafsir dengan tema kemanusiaan (humanisme).
Apa yang mendorong saya, adalah suramnya suasana kemanusiaan di belahan dunia manapun.
Inilah syair “ILIR-ILIR” selengkapnya.
“lir-ilir, lir-ilir tanduré wis sumilir; Sadarlah wahai anak-anakku, sinar cerah telah menerangi duniamu,
tak ijo royo-royo tak sengguh temantèn anyar; Dunia ini sejatinya penuh dengan persaudaraan dan perdamaian,
cah angon-cah angon penèkna blimbing kuwi; Bangunlah jembatan persahabatan betapa pun sulitnya,
lunyu-lunyu penèkna kanggo masuh dodot ira; Karena persahabatan adalah modal kesucian hidup,
dot ira-dot ira kumitir bedhahing pinggir; Betapa pun perjuangan itu memerlukan proses yang tidak mudah,
dom ana-jlumat ana kanggo séba mengko soré; Oleh karena itu bersatulah untuk menyongsong masa depanmu,
pupung padhang rembulané, pupung jembar kalangané; Selagi tersedia kesempatan, selagi tersedia semangat,
ya suraka aaa …. aaa… surak horéééé….”; Sinar kemenangan itu telah menantimu, berupa persaudaraan dan perdamaian yang mensucikan.
Semakin canggih ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, semakin canggih pula digunakan untuk merendahkan nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti persaudaraan, perdamaian dan toleransi.
Sementara perebutan sumber-sumber ekonomi semakin keras dan abai dengan nilai-nilai kemanusiaan, pada saat yang sama terjadi pula eskalasi kekerasan dengan dalih membela doktrin, tetapi berselubungkan hak-hak azasi manusia. Hak-hak azasi manusia yang sejatinya untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan justru berbalik menjadi alasan pembenaran melakukan kekerasan. Paradoks yang membingungkan.
Masa depan kemanusiaan dunia yang suram seperti inilah yang ditangkap radar hati Kanjeng Sunan Kalijaga, dalam menerawang kehidupan manusia di bumi kelak sepeninggalnya. Sebagai seorang sastrawan di jamannya, maka menjadi kewajiban beliau untuk mengingatkan kepada anak cucunya melalui banyak sekali karya sastranya, agar selalu memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalani kehidupan. Baik yang sedang di kekuasaan, maupun yang sedang menjadi rakyat biasa.
Nilai-nilai kemanusiaan sejatinya tidak dikungkung dalam kitab-kitab suci dan disimpan dalam rumah-rumah suci, tetapi harus ditebarkan di ladang-ladang kehidupan dengan laku suci. Itulah yang dilakukan Kanjeng Sunan Kalijaga yang sekarang kita sebut HUMANISME.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s