Menonton Pengantin Jawa (1): The Egalitarianism

Saya kabarkan kepada pembaca yang budiman, bahwa keponakan kita, Tono sudah menginjak dewasa. Semenjak lulus dari SMP, Tono tidak sekolah lagi. Tetapi jangan salah sangka, Tono bukan tipe anak yang pemalas atau bodoh, melainkan alasan ekonomi yang memaksa ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Tono tipe pemuda yang rajin bekerja. Ia membantu orang tuanya mengolah sawahnya yang tidak seberapa luas. Bahkan boleh dibilang Tono yang sekarang mengerjakan sawah milik orang tuanya. Orang tuanyalah yang karena alasan usia hanya membantu semampunya. Tono bukan tipe anak yang suka menghabiskan waktunya dengan keluyuran naik sepeda motor kesana-kemari sambil menenteng Hp, lalu pasang aksi telepon di muka orang-orang desa. Tono tipe pemuda yang sangat bertanggungjawab kepada orang tuanya dan lingkungannya. Hasil panenan selalu ditabung sebagian entah untuk persiapan apa.
Sementara teman-temannya setiap malam keluyuran dengan sepeda motor, bergoncengan dengan cewek-cewek lalu menonton panggung dang-dut di desa-desa terdekat, Tono malah mengorganisasi penjagaan malam di desanya Tegalrejo. Oleh pak Lurah Tegalrejo, Tono sering dipanggil untuk membantu tugas-tugas kelurahan terutama yang berkaitan dengan kepemudaan seperti olah-raga, keamanan desa, penghijauan lahan, siaga bencana dan masih banyak lagi. Pendeknya Tono adalah tipe pemuda ideal di desa Tegalrejo.
Tetapi di rumahnya, pak dan bu Sastro-orang tua Tono-dalam hati sebenarnya merasa prihatin, melihat anaknya belum tetarik kepada gadis satu pun. Jika ditanya oleh pak dan bu Sastro, Tono selalu mencoba menghindar dengan mengalihkan pembicaraan. Tidak kehilangan akal, orang tua Tono meminta bantuan pamannya lik Parmin untuk membujuk Tono agar bersedia kawin dengan gadis pilihannya. Meskipun Pak dan Bu Sastro adalah produk tradisi lama dan tinggal di pedesaan, namun jiwanya sudah menganut kesetaraan (egalitarianism). Selain prinsip hidup, juga sebagai tawaran (teaser) agar Tono segera mau dinikahkan. Jika Tono mau dengan pilihan orang tuanya ya syukur, kalau tidak Tono boleh memilih gadis yang diidamkannya. Entah mantra apa yang digunakan, rupanya bujukan lik Parmin manjur, Tono luluh hatinya, dan bersedia dikawinkan.
Persoalan berikutnya muncul, Tono ternyata belum punya pacar (pacangan). Pantas saja, soalnya waktunya dihabiskan mengolah sawah dan membantu tugas-tugas kelurahan. Sementara itu baik pak dan bu Sastro maupun lik Parmin juga belum mempunyai gadis pilihan yang sekiranya pantas untuk dijodohkan dengan Tono. Tetapi tidak perlu khawatir karena alam menyediakan sistem yang memadai agar manusia bisa mencari pasangan hidup yang diinginkan. Jika di kota kita mengenal “Biro Jodoh”, di pedesaan pun juga ada sarana sosial sejenis itu, tetapi tidak berbentuk institusional melainkan individual. Orang tua Tono meminta bantuan seseorang yang memang profesinya mencarikan jodoh. Orang tersebut di desa di namakan “congkok” atau “dhandhan” atau “jomblang”. Mungkin namanya sepadan dengan istilah di Jakarta “mak Comblang”. Untuk menjadi mak comblang banyak syaratnya, misalnya pandai bergaul, banyak kenalannya, luas pergaulannya dan lain sebagainya. Mak comblang inilah yang akan mencarikan jodoh yang pantas atau setara dengan kondisi Tono. Tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Tentu saja untuk keberhasilannya nanti, tidak ada yang gratis. Orang tua Tono sudah menyediakan anggaran yang diminta oleh mak comblang. Proses mencarikan jodoh ini di desa disebut “madik”. Tentu saja mak comblang sudah mempunyai data base tentang orang tua mana yang mempunyai anak-anak gadis atau perjaka, meskipun data basenya hanyalah dalam ingatan saja. Jadi ketika ada order untuk mencarikan jodoh, mak comblang tinggal memilah dan memilih yang sesuai dengan kondosi masing-masing calon pasangan.
Singkat cerita, mak comblang sudah menemukan calon pasangan untuk Tono. Tidak satu. Artinya, jika yang satu Tono tidak cocok, bisa memilih yang kedua atau ketiga. Masalahnya baik Tono maupun orang tuanya belum pernah melihat gadis yang akan dicalonkan, maupun kenal dengan orang tuanya. Sementara data base yang dimiliki mak comblang hanya ada di otaknya. Jadi untuk menggambarkan profil calon pasangan Tono, orang tuanya hanya mengandalkan cerita mak comblang saja. Selebihnya adalah takdir. Berbeda dengan biro jodoh di kota yang mempunyai data base berupa riwayat hidup, pendidikan, bahkan foto wajah. Jangan khawatir, para leluhur Jawa sudah menyediakan sistem sosial yang disebut “nontoni”.

Posted on December 29, 2011, in Tradisi and tagged . Bookmark the permalink. 4 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.