Menonton Pengantin Jawa (2): Hipokrit?

Ini adalah lanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1): The Egaliteranism

Terjadi pembicaraan yang hangat di rumah pak Sastro (orang tua Tono) untuk memilih calon isteri bagi Tono. Ada mak comblang, pak dan bu Sastro, lik Parmin dan Tono sendiri. Profil gadis yang ditawarkan hanya mengandalkan cerita mak Comblang belaka dan pas foto hitam-putih 3×4. Ada tiga gadis yang ditawarkan mak comblang, semua diceritakan dengan jelas profilnya. Meskipun pak dan bu Sastro ikut nimbrung bicara tetapi sama sekali tidak mendominasi keputusan. Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada Tono untuk memilih. Bahwa Tono mau menikah itu saja sudah sangat menggembirakan pak dan bu Sastro. Karena sulit memilih, dan mempertimbangkan keragu-raguan Tono, maka mak comblang menyarankan mendatangi rumah gadisnya untuk melihat lebih dulu. Melihat di sini selain untuk pak dan bu Sastro juga untuk Tono dengan gadis yang dicalonkan. Pilihan pertama yang akan didatangi adalah gadis bernama Tini anak pak dan bu Sejo dari desa Karanganyar, tetangga desa. Sementara itu mak comblang berpamitan, guna menuju rumah pak Sejo di Karanganyar, memberitahukan bahwa akan ada tamu pada beberapa lagi.

Pada hari yang disepakati, berangkatlah rombongan 5 orang terdiri dari Tono, pak dan bu Sastro, lik Parmin dan mak comblang, menuju rumah pak Sejo di desa Karanganyar. Rombongan naik dokar (delman), sementara Tono naik sepeda. Di rumah pak Sejo rombongan diterima pak dan bu Sejo, dan beberapa orang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai kerabat pak Sejo. Agar berjalan hangat dan penuh keakraban, pertemuan dipandu oleh mak comblang, yang selain luwes dalam pembicaraan juga pandai membuat pembicaraan berjalan akrab dan penuh gelak tawa. Intinya bahwa kedatangan pak dan bu Sastro ingin berkenalan, sekaligus memperkenalkan anaknya yang bernama Tono yang juga ingin berkenalan dengan anaknya pak Sejo yang bernama Tini.

Pembaca yang budiman, perhatikan bagaimana pak Sejo memperlihatkan Tini anaknya. Tini anak pak Sejo tidak serta-merta di panggil ke ruang tamu lalu disuruh bersalaman dengan Tono. Cara ini di pedesaan dirasa sangat fulgar dan tidak etis. Melainkan menggunakan teknik lain yang lebih santun. Tini disuruh menyuguhkan minuman dan beberapa hidangan kepada rombongan, dengan begitu Tono (dan pak/bu Sastro) dapat melihat sekilas profil fisik calon pasangannya nanti. Apakah Tini disuruh bersalaman dengan Tono, sama sekali tidak! Momen sekilas itu sudah mencukupi bagi Tono dan orang tuanya mendapat gambaran secara fisikal calon pasangannya. Tini pun dapat dengan sekilas melihat calon pasangannya kelak. Hipokrit? Sama sekali tidak! Ini adalah sistem sosial yang santun. Masing-masing keluarga terjaga kehormatannya.

Setelah pertemuan dirasa cukup, maka pamitlah rombongan keluarga pak Sastro untuk pulang. Sekali lagi pertemuan hanyalah perkenalan. Tidak ada kesepakatan apa pun, tidak ada janji apa pun, tidak ada ikatan apa pun. Masing-masing keluarga masih dalam posisi bebas. Proses ini disebut “nontoni”. Nonton artinya melihat. Masing-masing keluarga melihat secara fisikal bakal calon besan dan menantunya kelak, jika ada takdir jodoh.

Tak dinyana di tengah jalan Tono nyeletuk. Pak sudahlah itu saja. Nggak usah ke mana-mana lagi. Serentak seluruh rombongan bersorak gembira. Bagaimana kelanjutan ceritanya, baca terus di SERBAJAWA.

TO BE CONTINUED.

 

Posted on December 30, 2011, in Tradisi and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.