Menonton Pengantin Jawa (3), Bibit, Bobot, Bebet
Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1) dan (2).
Ada perihal penting yang perlu diingatkan lik Parmin, tentang ajaran bibit, bobot, bebet kepada pak dan bu Sastro. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian pak Sastro. Bibit, merujuk pada strata sosial dan moral calon besan, serta kesehatan calon menantu. Bobot, mengandung pengertian tingkat pendidikan calon menantu, juga strata ekonomi calon besan. Bebet, dimaksudkan mempertimbangkan latar belakang moral calon besan dan calon menantu. Di kalangan masyarakat Jawa sangat dipahami pepatah “Kacang mangsa ninggala lanjaran” yang dalam tataran nasional setara dengan “Jatuhnya buah tidak jauh dari pohonnya”. Tetapi,
semuanya sulit bagi pak Sastro untuk mendifinisikan, karena ia sama sekali hanya mengandalkan cerita mak comblang, yang pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi.
Bibit, Bobot, Bebet adalah pemikiran sosial yang hampir musykil dipraktekkan seratus persen. Karena jika hal itu betul-betul dipraktekan, akan banyak jejaka dan gadis yang sulit mendapatkan jodoh. Lagi pula bibit, bobot, dan bebet bukan hak laki-laki melainkan juga hak perempuan. Tetapi hal itu merupakan kesadaran idialis, karena pada prakteknya sampai saat ini hak-hak perempuan (gender) masih jauh panggang dari api.
Hari itu di rumah pak Sastro, lik Parmin merasa perlu mendapat jaminan kemantaban hati Tono untuk memilih Tini putra pak Sejo dari desa Karanganyar. Nampaknya Tono tidak ragu-ragu lagi, dan hanya mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.
Meskipun baru sebagian kecil tugas mak comblang dapat dilaksanakan dengan sukses, namun sudah sepatutnya ia mendapat sebagian imbalan atas jasa itu. Bisa berupa beras, padi, kambing atau uang. Dan itu sah-sah saja. Tidak di desa atau di kota, bahwa kehidupan tidak ada yang gratis. Bukankah mak comblang juga butuh untuk membiayai kehidupan keluarganya. Belum tentu mak comblang juga punya penghasilan tetap, semisal menjadi pegawai kelurahan atau kecamatan, atau mempunyai sebidang tanah yang bisa menghidupi keluarganya. Dengan begitu roda kehidupan masing-masing orang dapat berjalan dengan sewajarnya.
Ada beberapa jenis tahapan penugasan bagi mak comblang, yang pertama, tugas mak comblang hanya sampai di sini dan selesai. Proses selanjutnya dilakukan sendiri oleh Pak Sastro dan keluarganya serta team suksesnya. Jika ini yang disepakati, maka mak comblang mendapat imbalan final sesuai yang disepakati. Yang kedua, tugas mak comblang sampai pak Sastro selesai melamar Tini calon menantunya. Yang ketiga, tugas mak comblang sampai terjadi pernikahan antara Tono dan Tini. Dengan begitu tugas mak comblang dianggap tuntas alias paripurna. Dalam kisah-kasih ini mak comblang ditugasi sampai terjadi pernikahan antara Tono dan Tini kelak jika memang ada takdir jodoh.
Pagi itu, sudah berkumpul pak dan bu Sastro, lik Parmin, Tono serta beberapa anggota keluarga dan mak comblang untuk berangkat ke rumah pak Sejo. Kepergian ini bertujuan untuk melamar Tini putra pak Sejo dari desa Karanganyar. Rombongan berjumlah sepuluh orang karena keluarga pak Sastro merasa perlu ikut. Diperlukan dua dokar (delman) untuk mengangkut rombongan yang berjarak kurang lebih lima kilometer. Itu pun tidak langsung mencapai rumah pak Sejo, karena harus menyeberang sungai yang sedang banjir. Jadi harus menggunakan “témbo” (perahu penyeberangan). Risiko perahu tumpah dan seluruh penumpang hanyut atau keleleb juga tidak bisa dihindari. Jadi penyeberangan dibagi menjadi dua kloser (kelompok seberang). Memang bisa menyeberang lewat jembatan, tetapi harus ditempuh memutar jauh sekali. Jadi diputuskan menyeberang menggunakan perahu penyeberangan, sementara itu delman pengantar disuruh menunggu sampai acara di rumah pak Sejo selesai. Sama seperti taxi di kota, menunggu itu ada harganya, meskipun tidak ada argometernya. Kebangetan kalau pembaca menanyakan bagaimana menghitung ongkosnya jika tanpa argometer. Di desa semua kehidupan berjalan sangat santun. Tawar-menawar kebutuhan tidak terlalu tajam banget, semua pihak saling memaklumi kebutuhan masing-masing, sehingga kehidupan berjalan sangat harmonis.
Sampai di rumah pak Sejo, rombongan pak Sastro diterima langsung oleh pak dan bu Sejo serta beberapa anggota keluarga. Keramahan khas desa Tegalreja nyata sekali dengan munculnya bermacam-macam hidangan khas desa, seperti, jadah, jenang, kerupuk ketan, roti maha, kacang rebus, pisang rebus, ketela rebus, dan minuman sirup, teh dan kopi bagi para laki-laki. Yang menghidangkan tak terkecuali Tini juga muncul, sambil melirik Tono yang wajahnya kemerahan malu. Ternyata yang menjadi juru bicara keluarga pak Sejo adalah kang Kromo kebayan desa Tegalreja. Kebayan adalah perangkat (pegawai) kelurahan yang tugasnya mengkoordinasikan tugas keamanan desa dari gangguan bahaya. Pengertian bahaya di sini amat luas mulai bahaya pencurian, perampokan, banjir, tanah longsor, kebakaran dan sebagainya. Tugas yang berat memang, tetapi jabatan kebayan juga mendapat imbalan berupa sawah jabatan yang bisa dia garap selama menjabat sebagai kebayan. Berapa luas sawah jabatan bagi kebayan, sangat tergantung seberapa luas sawah milik desa tersebut. Itulah sebagai ganti gaji seperti pegawai kantoran. Dari pihak pak Sastro, yang menjadi juru bicara adalah lik Parmin, paman Tono. Kebetulan lik Parmin adalah orang yang pandai bicara, dan sering menjadi pembawa acara di desa Tegalreja jika ada orang yang punya hajatan seperti mantu atau lainnya. Kalau di TV mirip MC (master of ceremony) begitulah kira-kira, hanya ini kelas lokal dan bayarannya hanya sepiring nasi dan ucapan terimakasih. Itu pun kadang-kadang lupa juga.
Di luar rumah suara kokok ayam jantan dan lenguhan sapi serta embikan kambing ramai bersahutan. Agaknya mereka ikut menyambut gembira bakal ada pembicaraan ke arah kehidupan rumahtangga baru. Bagaimana jalannya pembicaraan kedua keluarga, ikuti terus di OPERA SERBAJAWA.
To be continued.
Posted on January 26, 2012, in Tradisi and tagged bibit bobot bebet, pengantin Jawa. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Bisa didapatkan ditoko buku terdekat atau hubungi serbajawa@yahoo.co.id




Pingback: Menonton Pengantin Jawa (4) « SERBA JAWA
Pingback: Menonton Pengantin Jawa (5), The Convention « SERBA JAWA