Menonton Pengantin Jawa (4)
Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1), (2) dan (3).
Assalamualaikum, warahmatullohi wabarohkatuh. Suara berat kang Kromo membuka pembicaraan di rumah pak Sejo siang itu. Ia mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu yang hadir dan mempersilahkan menikmati hidangan yang telah tersedia, sebelum acara pertemuan itu dilanjutkan. Intinya pak Sejo merasa bahagia sekali kedatangan rombongan tamu terhormat keluarga pak Sastro dari desa Tegalreja, dan mempersilakan kepada pak Sastro untuk menyampaikan maksudnya berkenan datang di rumah pak Sejo.
Lik Parmin yang menjadi juru bicara rombongan pak Sastro, beringsut pantatnya untuk duduk mencari kenyamanan angkat bicara. Dengan keahliannya merangkai bahasa yang santun dan indah, pada intinya pak dan bu Sastro datang untuk melamar putra Pak Sejo yang bernama Tini untuk dijodohkan dengan anaknya yang bernama Tono. Jika ada syarat yang harus dipenuhi, keluarga pak Sastro akan berusaha mempertimbangkan.
Suasana menjadi hening, kang Kromo dan pak dan bu Sejo menarik nafas dalam-dalam. Lik Parmin dan seluruh rombongan tamu pun juga tegang menunggu jawaban. Setelah beberapa saat kang Kromo memulai lagi bicara dengan hati-hati dan berat. Pada dasarnya keluarga pak Sejo merasa terhormat bahwa putranya yang bernama Tini dikehendaki untuk diambil menantu oleh pak Sastro, akan tetapi ada ganjalan sedikit, yaitu bahwa Tini mempunyai kakak laki-laki yang belum nikah.
Pembaca yang budiman, di Jawa (seperti pada etnis manapun) ada kesadaran kolektif bahwa orang tua enggan menikahkan adiknya sementara kakaknya belum nikah. Ada pertimbangan yang perlu disampaikan. Yang pertama, soal etika. Tidak seyogyanya yang muda mendahului yang tua. Yang kedua, soal mitos. Jika yang muda mendahului yang tua, dikhawatirkan yang tua akan sulit menemukan jodohnya.
“Lalu, ……..”? lik Parmin, merasa perlu mendesak jawaban pasti dari keluarga pak Sejo.
“Kami sekeluarga sudah mempertimbangkan pilihan yang terbaik bagi semuanya. Kang Kromo melanjutkan pembicaraan. Lamaran pak Sastro diterima juga belum, ditolak juga tidak”.
Seluruh rombongan tegang menunggu kelangsungan jawaban kang Kromo.
Kang Kromo melanjutkan bicaranya dengan pelan-pelan dan pemilihan kosa-kata yang hati-hati. “Pak Sastro, bahwa jodoh itu sepenuhnya berada dalam kekuasaan Gusti Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Keputusan kami sekeluarga akan menerima kami tangguhkan selama satu tahun. Mudah-mudahan dalam setahun ke depan kakaknya Tini sudah mendapatkan jodoh. Jika dalam setahun nanti kakaknya Tini belum juga mendapatkan jodoh, maka lamaran pak Sastro otomatis kami terima, dan rencana pernikahan dapat dimulai. Waktu menunggu selama setahun tersebut dapat digunakan untuk sama-sama menabung guna mempersiapkan bagi rumahtangganya kelak. Namun jika dalam setahun ke depan nak Tono menemukan jodohnya sendiri, dengan segala hormat kami seluruh keluarga akan menghormati, dan kami sekeluarga juga bebas mencarikan jodoh untuk Tini”.
Kang Kromo bernafas lega bisa mengutarakan jawaban yang menurutnya dirasa sudah sangat hati-hati jangan sampai menyinggung kehormatan pak Sastro. Pilihan menunda jawaban juga sudah sangat rasional dengan mempertimbangkan soal etika dan mitos itu tadi. Menerima dengan menunda dirasa juga sudah rasional dengan memberikan alasan untuk menabung bagi caloan pasangan. Jika memang bukan jodoh dengan Tini, Tono juga memiliki kebebasan untuk mencari jodohnya sendiri, sementara Tini juga punya kebebasan serupa.
Rombongan merasa terkejut dengan jawaban yang tidak dinyana tersebut. Dari mak comblang juga tidak mendapat informasi yang lengkap mengenai situasi seperti ini. Keributan terjadi pada rombongan keluarga pak Sastro. Melihat situasi yang tidak nyaman tersebut tiba-tiba Tono menyela dengan jelas. “Pak kita terima saja jawaban ini, sementara itu saya bisa menabung dulu. Saya juga belum kesusu kok”.
Seluruh tamu yang hadir menarik nafas lega, dengan ucapan Tono.
Pembaca yang budiman, jika dalam proses melamar tersebut tidak ada ganjalan apa pun, maka jawaban diterima akan diberikan saat itu juga dan acara melamar tersebut hanya formalitas belaka, dan pertemuan penuh dengan gelak-tawa dan suka-cita. Namun jika ada ganjalan seperti tersebut di atas maka lamaran begitu penting sekali. Jika lamaran ditolak maka orang Jawa punya cara yang halus untuk mengungkapkannya. Biasanya jawaban akan diberikan dalam beberapa hari lagi, dengan mengemukakan berbagai alasan. Orang Jawa memegang etika untuk tidak mempermalukan orang lain di depan umum.
Semua pihak, menerima keputusan yang dibuat Tono. Sementara dari kejuhan sayup-sayup terdengar suara adzan dzuhur, maka setelah dijamu makan siang, rombongan berpamitan untuk pulang ke desa Tegalreja rumah pak dan bu Sastro.
Keputusan yang sulit telah dibuat oleh keluarga pak Sejo, namun rupanya tidak ada satu pihak pun yang merasa tersinggung kehormatannya. Terlebih lagi setelah Tono menerima untuk menunggu setahun lagi. Bagaimana kelanjutan kisah-kasih ini, langsung saja kita ke KTP eh maaf, TKP…….!!!!!
BERSAMBUNG
Posted on January 29, 2012, in Tradisi and tagged pengantin Jawa. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Bisa didapatkan ditoko buku terdekat atau hubungi serbajawa@yahoo.co.id




Pingback: Menonton Pengantin Jawa (5), The Convention « SERBA JAWA