Menonton Pengantin Jawa (5), The Convention
Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1), (2), (3) dan (4).
Sampai di rumah pak Sastro kembali, mak comblang membuka pembicaraan yang pada intinya mengusulkan agar kesempatan ini tidak lepas begitu saja. Jika sampai lepas, semua akan rugi. Semangat Tono yang sudah bersedia kawin, juga akan pudar. Pak Sastro akan kesulitan lagi menggiring Tono agar bersedia dikawinkan. Apalagi nampaknya Tono juga sudah jatuh hati kepada Tini. Sementara itu pak Sejo tidak terikat apa pun dengan pak Sastro. Ini artinya Tini bisa dinikahkan dengan siapa pun pilihan pak Sejo atau pilihan Tini sendiri. Satu yang tidak diungkapkan, jika hal itu terjadi maka hilanglah kesempatan mak comblang mendapat bonus keberhasilannya. Selain itu namanya sebagai mak comblang yang sukses akan jatuh di mata masyarakat.
Ibarat pepatah Jawa: “dalang mangsa kurangnga lakon” (dalang masakan kurang cerita), diusulkan agar pak Sastro memberikan “paningset” kepada pak Sejo, yang intinya agar Tini tidak dikawinkan dengan pemuda lain selama setahun tersebut. Paningset artinya pengikat. Jika calon pengantin belum siap karena alasan tertentu, dan calon pengantin laki-laki bersedia menunggu, maka agar calon pengantin perempuan tidak dinikahkan dengan pemuda lain, orang tua calon pengantin laki-laki dapat memberikan pengikat atau “paningset”. Bentuknya bisa bermacam-macam tergantung kemampuan orang tua calon pengantin laki-laki. Misalnya pakaian, perhiasan, uang, kendaraan, kerbau, sapi dan lainnya sebagainya. Jaman dulu di Jawa belum mengenal tradisi tukar cincin.
Ada konvensi yang tidak tertulis mengenai paningset ini; jika pertunangan itu gagal hingga tidak bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan, dan yang menggagalkan keluarga calon pengantin laki-laki, maka seluruh nilai paningset tersebut tidak perlu dikembalikan lagi ke keluarga calon pengantin laki-laki, artinya bisa dimiliki secara sah oleh keluarga calon pengantin perempuan. Tetapi jika yang menggagalkan pihak keluarga pengantin perempuan, maka keluarga calon pengantin perempuan wajib mengembalikan lipat dua kali nilai paningset tersebut.
“Ya, ya. setuju itu…..!!” dengan cepat Tono menyahut. Pembaca yang budiman, Tono yang semula enggan dikawinkan, setelah melihat Tini gadis calonnya, rupanya sudah mulai jatuh cinta terkiwir-kiwir ……???.
Melihat semangat Tono yang tetap menginginkan Tini, akhirnya pembicaraan mengerucut untuk mempertahankan Tini bagi calon Tono. Keluarga pak Sastro merasa perlu mengikat pak Sejo agar Tini tidak dikawinkan dengan pemuda lain. Maka hari berikutnya diutuslah team suksesnya menuju rumah pak Sejo, merundingkan keinginan pak Sastro yang ingin mengikat Tini bagi calon Tono.
Sekarang pak Sejo yang dalam posisi kebingungan mendapat desakan dari team suksesnya pak Sastro. Ada kepercayaan di kalangan masyarakat Jawa bahwa gadis yang telah dilamar seyogyanya tidak menolak lamaran tersebut. Sebab, jika ditolak, dikhawatirkan gadis tersebut akan sulit mendapatkan jodohnya atau bahasa kasarnya tidak laku kawin (bubruk). Pak Sejo perlu mendiskusikan dengan seluruh kerabatnya, hasilnya, diputuskanlah bahwa tawaran paningset tersebut akan diterima.
Perlu waktu seminggu pak dan bu Sastro mempersiapan paningset bagi calon pasangan Tono. Karena Pak Sastro bukan tergolong orang kaya, maka paningset tersebut tidaklah terlalu besar nilainya. Yang penting pesan simbolik dari paningset tersebut, yaitu agar Tini putra pak Sejo selama wakwu menunggu satu tahun tidak dikawinkan dengan pemuda lain.
Apa isi paningset tersebut, inilah contohnya: Jarit (kain) batik dengan motif yang dapat dipilih, seperti sidaluhur, sidamulya, sidamukti, truntum, dan lain sebagainya. Kemben (jarit kecil tutup dada) corak pelangi. Perhiasan emas, ditambah uang Rp 0,25 (setali). Setali adalah satuan uang sebesar Rp 0,25 pada jaman dulu ketika rupiah belum digunting (sanering oleh pemerintah RI dari Rp 1000,- menjadi Rp 1,-) pada tahun 1966. Setali asal kata dari “tali” sebagai simbolisasi ikatan atau “paningset” yang dilakukan pihak laki-laki untuk perempuan calon isterinya. Jaman sekarang, uang sebesar itu tentu tidak ada lagi, karena jika dikurs dengan nilai rupiah sekarang menjadi Rp 0,00025. Jodhang (peti tempat kue dan makanan yang ditandu oleh dua orang) berisi: Pala kasimpar (beberapa hasil pertanian yang tumbuh diatas tanah). Kasimpar artinya mudah tersandung kaki. Pala kependhem (beberapa hasil pertanian yang buahnya ada didalam tanah atau ubi-ubian). Kependem artinya terpendam di dalam tanah. Pala gumantung (beberapa hasil pertanian yang buahnya menggantung diatas tanah). Gumantung artinya menggantung diatas tanah. Jajan pasar, buah-buahan, penganan yang semuanya terbuat dari ketan. Ketan adalah jenis beras yang lengket jika dimasak. Sebagai simbolisasi agar calon pengantin terus lengket tidak berpisah lagi. Bagi orang yang cukup kaya masih ditambah lagi sesuai dengan kemampuan misalnya uang.
Paningset tersebut diantarkan oleh team sukses pak Sastro ke rumah pak Sejo, dan diterima langsung oleh pak Sejo yang didampingi para kerabatnya sebagai saksi.
TO BE CONTINUED
Posted on January 29, 2012, in Tradisi and tagged pengantin Jawa. Bookmark the permalink. Leave a Comment.

Bisa didapatkan ditoko buku terdekat atau hubungi serbajawa@yahoo.co.id




Leave a Comment
Comments (0)