Bangun jam duabelas malam tentu malas sekali dilakukan. Lebih-lebih lagi ketika gerimis belum reda juga dari hujan sore tadi. Tetapi tidak, kali ini ia lakukan dengan semangat melawan kemalasan yang sering merangkulnya. Celana panjang tentu saja, masih ditambah dengan kaos kaki tebal, sandal terompah, jaket tebal, kerudung kepala, dan payung. Kopi panas ia seruput, Continue reading
Category Archives: Cerpen
Kupu-kupu Putih
Ia hanya membawa ramuan daun sirih dan kapurnya untuk dikunyah nanti. Sehari-hari ia hanya duduk di tepi sungai dekat kuburan sambil mengunyah sirih. Angin semilir menyeka pelan-pelan keringatnya. Daun-daun pohon trembesi berbisik lembut melantunkan senandung ketentraman, sementara gesekan pohon bambu menimpali, mengatur irama. Riak gemuruh air sungai Continue reading
Layang-layang Tak Bisa Terbang
Hanya satu yang ada dalam benak Acekok, yaitu malam segera kelam dan siang segera menjelang. Sebab besok siang ia akan menerbangkan layang-layangnya. Layang-layang yang ia dapat dari mengerjar layang-layang putus setelah beradu di langit alun-alun kota. Tidak sendirian ia mengejar, mungkin ada sepuluh anak, besar dan kecil. Layang-layang itu jatuh di halaman kantor polisi. Continue reading
Dialog Imajiner Dengan Merapi
Malam itu di desa Kinahrejo sangat beku. Anak-anak sudah pulas dengan mimpinya, sementara buku pelajarannya tergolek disamping pelita. Untung masih berjarak sejengkal dari api pelita. Jika lebih dekat lagi mungkin sudah terbakar, dan besok pagi bisa dipastikan bakal distrap oleh bu guru di sekolah. Belalang di rumpun bambu samping rumah pun ikut bermain saling mengejek Continue reading
Surat Jalan
Ia mendengar isterinya mencuci piring di dapur belakang. Suara kecipak air membikin nyalinya miris. Pagi-pagi sedingin ini ia harus bangun dan mandi. Ritual manusia yang tak ia sukai tetapi tak bisa dihindari. Pikirnya, adakah ritual kemanusiaan selain mandi? Mengapa air harus dingin terus, mengapa air yang dihangatkan tidak hangat terus. Apakah benar jika tidur di hotel yang mahal itu Continue reading
Murwakala
Usia tigapuluh tahun membuat orang tuanya cemas. Meskipun ia sudah bekerja dan mampu secara ekonomis, yang namanya si jodoh belum datang juga. Pernah dekat dengan beberapa gadis, dasar belum jodoh, lewat juga si cewek digaet orang.
Melihat keadaan yang semakin kritis, setahun yang lalu, ia dipanggil pulang oleh Continue reading
Lampor
Pagi-pagi sekali Parmin sudah mulai menyiapkan peralatan yang hendak dibawa. Lima galah bambu masing-masing sebesar lengan tangan yang berukuran kira-kira lima meter. Galah terakhir diberi berpalang ujungnya, untuk melilitkan pulut (sejenis perekat yang terbuat getah pohon nangka), sangkar kecil berisi seekor burung perkutut, dan sedikit beras ketan untuk Continue reading