Kalimasada dan Pancasila

Malam sangat sunyi, semua kehidupan di pertapaan Saptohargo sudah terlelap tidur. Gelap malam itu berselimut kabut pegunungan yang beku, bahkan angin pun malas bertiup. Gerimis hujan sejak sore tadi masih menyisakan basah yang dingin di dedaunan dan di atap pertapaan. Para cantrik sudah terlelap tidur karena kelelahan latihan beladiri siang tadi. Dengan tertatih-tatih di kegelapan Continue reading

Balada Bambang Semantri (3): Jer Basuki Mawa Beya

Ini adalah kelanjutan dari Bambang Semantri (1) dan (2).

Kerajaan Maèspati kembali ke kehidupan normal lagi setelah usainya pernikahan agung Prabu Harjuna Sasrabahu dengan Citrawati adik Prabu Citragada dari kerajaan Magada. Taman Sriwedari juga sudah dibersihkan dari mahkluk aneh yang mengerikan, yang tak lain adalah adik Bambang Semantri sendiri. Sungguh besar jasa dan keberhasilan Bambang Semantri. Yang pertama Continue reading

Balada Bambang Semantri (2): Jer Basuki Mawa Beya

Ini adalah kelanjutan Bambang Semantri (1).

Pesta pernikahan agung di kerajaan Maèspati usai sudah. Citrawati resmi menjadi permaisuri raja Maèspati Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Panitia tinggal bersih-bersih keraton, menyingkirkan sampah-sampah dari bekas pesta pernikahan, seperti kardus makanan, janur bekas hiasan, bunga-bunga hiasan, botol-botol air mineral, dan lain-lain. Tak lupa juga membayari para EO yang Continue reading

Balada Bambang Semantri (1): Jer Basuki Mawa Beya

Tidak mudah bagi Bambang Semantri untuk mendaftar menjadi prajurit di kerajaan Maèspati. Oleh Sang Prabu Harjuna Sasrabahu ia ditugasi untuk melamar dewi Citrawati putra pamannya yaitu Sang Prabu Citragada di kerajaan Magada. Padahal sudah banyak para raja dan panglima perang utusan berbagai raja untuk melamar. Mereka menunggu jawaban dari Prabu Citragada. Jika Continue reading

Ruwatan (4): Tontonan, Tuntunan, Tatanan dan Tuntutan

Ini adalah bagian akhir dari Ruwatan setelah Ruwatan (1), (2) dan (3).

Setelah mendapat petunjuk dari Bathara Guru siapa saja yang boleh dimakan, cepat-cepat Bathara Kala memohon diri sambil menyembah, untuk turun ke bumi mencari makan orang-orang yang dianggap sukerta. Yaitu orang yang dianggap mempunyai nasib sial dalam hidupnya (lihat ruwatan-3, the Continue reading

Ruwatan (2): Tour De Nusantara

Ini adalah lanjutan Ruwatan (1).

Syahdan, Sang Hyang Bathara Guru ingin melakukan inspeksi ke bumi melihat-lihat keadaan bagaimana kehidupan manusia. Ia naik kendaraan Lembu Handini dengan mengajak serta isterinya yang cantik jelita yaitu Dewi Uma. Berdua melanglang buwana menikmati keindahan dunia dari angkasa. Ketika berada diatas pulau yang penuh gunung-gunung dan pemandangan yang Continue reading

Ruwatan (1)

Di suatu ketika, Sang Hyang Wenang yang berada di Kahyangan Alang-alang Kumitir, memanggil ketiga putranya yaitu Sang Hyang Tejamaya, Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Kepada ketiganya, Sang Hyang Wenang bertanya, ”siapa yang ingin jadi raja Kahyangan dan raja dunia”? Ketiganya serempak mengacungkan tangan, menandakan bahwa masing-masing Continue reading

Pandu: Mahalnya Kesombongan (3)

Kehidupan hastina telah kembali normal. Pesta pernikahan prabu Pandu dengan dewi Madrim telah usai. Libur nasional selama dua minggu untuk merayakan pernikahan raja telah usai, semua pegawai yang libur juga telah masuk kerja lagi. Namun kepala daerah merasa perlu melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke setiap kantor pemerintah Hastina. Pegawai negeri yang belum juga masuk Continue reading

Pandu: Mahalnya Kesombongan (2)

Ini adalah kelanjutan dari Pandu (1).

Dikisahkan yang lalu, prabu Pandu berhasil meminjam kendaraan Lembu Handini milik Bathara Guru, yang akan dipakai sebagai kendaraan pengantin bersanding dengan calon isterinya yang baru yaitu Dewi Madrim, adik prabu Salya dari negara Mandaraka. Demikianlah memang permintaan Dewi Madrim, bahwa ia mau dinikahi prabu Pandu asalkan ia dapat mengendarai Lembu Handini sebagai kendaraan pengantin. Bukan prabu Pandu kalau ia tidak bisa mewujudkan permintaan Dewi Madrim, meskipun taruhannya adalah masuk Continue reading

Pandu: Mahalnya Kesombongan (1)

Pernahkah anda bayangkan sebuah negara luasnya separoh dunia. Itulah negara Hastina. Negara yang kuat militernya, sangat makmur, sejahtera, konon karena bersih dari korupsi (menempati rangking pertama menurut persepsi skala Transparency Internasional). Politisinya memang kaya tetapi memang bergaji besar, bukan karena menjadi calo anggaran negara. Pegawai negerinya Continue reading

Keris (7): Cerita Legenda Keris

Ini adalah kelanjutan dari keris (1), (2), (3), (4), (5) dan (6)

KERIS EMPU GANDRING

Pada jaman pemerintahan Singosari (sekarang Malang, Jawa Timur) terdapatlah seorang empu yang sangat terkenal bernama Empu Gandring. Atas pesanan Ken Arok, Empu Gandring membuat keris yang sangat kuat. Begitu kuatnya sehingga Empu Gandring memerlukan waktu cukup lama membuatnya sehingga melebihi Continue reading

Keris (6)

Ini adalah lanjutan dari Keris (1), Keris (2), Keris (3), Keris (4) dan Keris (5).

Jika anda ingin memiliki keris yang baik, ada empat kriteria yang seyogyanya dipedomani, yaitu tangguh, sepuh, wutuh dan tayuh. Idealnya empat itu menjadi rujukan, namun tentu saja tidak mudah mendapatkan keris yang dapat memenuhi empat kriteria tersebut.

Tangguh merujuk pada zaman pembuatan dan asal-usul keris tersebut. Dengan menelusuri pembuatannya, kita bisa mengetahui empu siapa yang Continue reading

Keris (5)

Ini adalah kelanjutan Keris (1), Keris (2), Keris (3) dan Keris (4)

Tayuh. Memasuki dunia perkerisan semakin intens ketika membicarakan tema Tayuh, karena kita akan dibenturkan pada masalah keyakinan dengan sikap rasional. Keyakinan, kita dapatkan dari cerita turun temurun oleh para nenek moyang kita, sementara cara berpikir rasional kita dapatkan dari bangku sekolah, yang pada dasarnya menuntut adanya pembuktian secara Continue reading

Keris (4)

Ini adalah kelanjutan dari Keris (1), Keris (2) dan Keris (3).

Pasikutan.  Dalam dunia perkerisan pembaca juga akan diperkenalkan istilah pasikutan. Yang dimaksudkan adalah kesan selintas, ketika memandang bentuk keris. Kesan ini tentu saja hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah lama berkecimpung di dunia perkerisan. Bagi orang awam tentu sulit. Kesan sekilas yang muncul seperti penggambaran sosok postur manusia, seperti luwes, kaku, dhemes (manis mempesona), wingit (beribawa), kemba Continue reading