<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SERBA JAWA</title>
	<atom:link href="http://serbajawa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serbajawa.wordpress.com</link>
	<description>Mari mengenal lebih dekat budaya Jawa.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 17:47:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='serbajawa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SERBA JAWA</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://serbajawa.wordpress.com/osd.xml" title="SERBA JAWA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://serbajawa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menonton Pengantin Jawa (4)</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/29/menonton-pengantin-jawa-4/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/29/menonton-pengantin-jawa-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1), (2) dan (3). Assalamualaikum, warahmatullohi wabarohkatuh. Suara berat kang Kromo membuka pembicaraan di rumah pak Sejo siang itu. Ia mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu yang hadir dan mempersilahkan menikmati hidangan yang telah tersedia, sebelum acara pertemuan itu dilanjutkan. Intinya pak Sejo merasa bahagia sekali kedatangan rombongan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=310&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa <a href="http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/29/menonton-pengantin-jawa-1-the-egalitarianism/">(1)</a>,<a href="http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/30/menonton-pengantin-jawa-2-hipokrit/"> (2)</a> dan <a href="http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/menonton-pengantin-jawa-3-bibit-bobot-bebet/">(3)</a>.<br />
Assalamualaikum, warahmatullohi wabarohkatuh. Suara berat kang Kromo membuka pembicaraan di rumah pak Sejo siang itu. Ia mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu yang hadir dan mempersilahkan menikmati hidangan yang telah tersedia, sebelum acara pertemuan itu dilanjutkan. <span id="more-310"></span>Intinya pak Sejo merasa bahagia sekali kedatangan rombongan tamu terhormat keluarga pak Sastro dari desa Tegalreja, dan mempersilakan kepada pak Sastro untuk menyampaikan maksudnya berkenan datang di rumah pak Sejo.<br />
Lik Parmin yang menjadi juru bicara rombongan pak Sastro, beringsut pantatnya untuk duduk mencari kenyamanan angkat bicara. Dengan keahliannya merangkai bahasa yang santun dan indah, pada intinya pak dan bu Sastro datang untuk melamar putra Pak Sejo yang bernama Tini untuk dijodohkan dengan anaknya yang bernama Tono. Jika ada syarat yang harus dipenuhi, keluarga pak Sastro akan berusaha mempertimbangkan.<br />
Suasana menjadi hening, kang Kromo dan pak dan bu Sejo menarik nafas dalam-dalam. Lik Parmin dan seluruh rombongan tamu pun juga tegang menunggu jawaban. Setelah beberapa saat kang Kromo memulai lagi bicara dengan hati-hati dan berat. Pada dasarnya keluarga pak Sejo merasa terhormat bahwa putranya yang bernama Tini dikehendaki untuk diambil menantu oleh pak Sastro, akan tetapi ada ganjalan sedikit, yaitu bahwa Tini mempunyai kakak laki-laki yang belum nikah.<br />
Pembaca yang budiman, di Jawa (seperti pada etnis manapun) ada kesadaran kolektif bahwa orang tua enggan menikahkan adiknya sementara kakaknya belum nikah. Ada pertimbangan yang perlu disampaikan. Yang pertama, soal etika. Tidak seyogyanya yang muda mendahului yang tua. Yang kedua, soal mitos. Jika yang muda mendahului yang tua, dikhawatirkan yang tua akan sulit menemukan jodohnya.<br />
“Lalu, ……..”? lik Parmin, merasa perlu mendesak jawaban pasti dari keluarga pak Sejo.<br />
“Kami sekeluarga sudah mempertimbangkan pilihan yang terbaik bagi semuanya. Kang Kromo melanjutkan pembicaraan. Lamaran pak Sastro diterima juga belum, ditolak juga tidak”.<br />
Seluruh rombongan tegang menunggu kelangsungan jawaban kang Kromo.<br />
Kang Kromo melanjutkan bicaranya dengan pelan-pelan dan pemilihan kosa-kata yang hati-hati. “Pak Sastro, bahwa jodoh itu sepenuhnya berada dalam kekuasaan Gusti Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Keputusan kami sekeluarga akan menerima kami tangguhkan selama satu tahun. Mudah-mudahan dalam setahun ke depan kakaknya Tini sudah mendapatkan jodoh. Jika dalam setahun nanti kakaknya Tini belum juga mendapatkan jodoh, maka lamaran pak Sastro otomatis kami terima, dan rencana pernikahan dapat dimulai. Waktu menunggu selama setahun tersebut dapat digunakan untuk sama-sama menabung guna mempersiapkan bagi rumahtangganya kelak. Namun jika dalam setahun ke depan nak Tono menemukan jodohnya sendiri, dengan segala hormat kami seluruh keluarga akan menghormati, dan kami sekeluarga juga bebas mencarikan jodoh untuk Tini”.<br />
Kang Kromo bernafas lega bisa mengutarakan jawaban yang menurutnya dirasa sudah sangat hati-hati jangan sampai menyinggung kehormatan pak Sastro. Pilihan menunda jawaban juga sudah sangat rasional dengan mempertimbangkan soal etika dan mitos itu tadi. Menerima dengan menunda dirasa juga sudah rasional dengan memberikan alasan untuk menabung bagi caloan pasangan. Jika memang bukan jodoh dengan Tini, Tono juga memiliki kebebasan untuk mencari jodohnya sendiri, sementara Tini juga punya kebebasan serupa.<br />
Rombongan merasa terkejut dengan jawaban yang tidak dinyana tersebut. Dari mak comblang juga tidak mendapat informasi yang lengkap mengenai situasi seperti ini. Keributan terjadi pada rombongan keluarga pak Sastro. Melihat situasi yang tidak nyaman tersebut tiba-tiba Tono menyela dengan jelas. “Pak kita terima saja jawaban ini, sementara itu saya bisa menabung dulu. Saya juga belum kesusu kok”.<br />
Seluruh tamu yang hadir menarik nafas lega, dengan ucapan Tono.<br />
Pembaca yang budiman, jika dalam proses melamar tersebut tidak ada ganjalan apa pun, maka jawaban diterima akan diberikan saat itu juga dan acara melamar tersebut hanya formalitas belaka, dan pertemuan penuh dengan gelak-tawa dan suka-cita. Namun jika ada ganjalan seperti tersebut di atas maka lamaran begitu penting sekali. Jika lamaran ditolak maka orang Jawa punya cara yang halus untuk mengungkapkannya. Biasanya jawaban akan diberikan dalam beberapa hari lagi, dengan mengemukakan berbagai alasan. Orang Jawa memegang etika untuk tidak mempermalukan orang lain di depan umum.<br />
Semua pihak, menerima keputusan yang dibuat Tono. Sementara dari kejuhan sayup-sayup terdengar suara adzan dzuhur, maka setelah dijamu makan siang, rombongan berpamitan untuk pulang ke desa Tegalreja rumah pak dan bu Sastro.<br />
Keputusan yang sulit telah dibuat oleh keluarga pak Sejo, namun rupanya tidak ada satu pihak pun yang merasa tersinggung kehormatannya. Terlebih lagi setelah Tono menerima untuk menunggu setahun lagi. Bagaimana kelanjutan kisah-kasih ini, langsung saja kita ke KTP eh maaf, TKP…….!!!!!<br />
BERSAMBUNG</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/tradisi/'>Tradisi</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/pengantin-jawa/'>pengantin Jawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=310&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/29/menonton-pengantin-jawa-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ngono Ya Ngono, The Span of Tolerant</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/ngono-ya-ngono-space-of-tolerant/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/ngono-ya-ngono-space-of-tolerant/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 08:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ngono ya ngono]]></category>
		<category><![CDATA[space of tolerant]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang membuat manusia hidup, mungkin ambisinya. Dengan ambisinya itu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan seterusnya. Kebutuhan itu harus dicari sampai dapat, atau bahasa heroiknya diperjuangkan untuk mencukupi hidupnya. Dalam memperjuangkan itulah sering terjadi kompetisi yang karena langkanya persediaan sumber-sumber ekonomi, menimbulkan friksi atau persinggungan yang tidak sehat. Begitu persinggungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=307&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang membuat manusia hidup, mungkin ambisinya. Dengan ambisinya itu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan seterusnya. Kebutuhan itu harus dicari sampai dapat, atau bahasa heroiknya diperjuangkan untuk mencukupi hidupnya. Dalam memperjuangkan itulah sering terjadi kompetisi yang karena langkanya persediaan sumber-sumber ekonomi, menimbulkan friksi atau persinggungan yang tidak sehat. Begitu persinggungan memuncak lalu melupakan<span id="more-307"></span> sendi-sendi kewajaran berkompitisi, sampai tega melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikis yang melukai hati orang lain.</p>
<p>Tengoklah jika ada antrian pembagian bahan pokok, misalnya karena banjir, lebaran, Idul kurban, atau antrian naik kereta api menjelang lebaran atau liburan. Merebutkan pembagian atau sumber ekonomi yang tak seberapa tersebut sering terjadi kekerasan fisik yang kadang-kadang menimbulkan korban. Itu baru perebutan sumber ekonomi, belum lagi soal pelayanan publik. Ambil contoh pelayanan publik yang dilakukan pemerintah. Hampir setiap loket pelayanan selalu ada biayanya. Bukankah mereka telah dibayar untuk tugas itu? Mereka sering keliru menafsir tugasnya. Mereka menganggap bahwa tugas yang dilakukan itu sebagai kekuasaan, yang dapat menentukan prioritas pelayanan. Sementara antara persediaan dan kebutuhan berjarak senjang sekali.</p>
<p>Ada contoh sebuah perusahaan yang memberikan layanan publik. Karena waktu itu masih kuat monopoli pemerintah, maka kantor tersebut disembah-sembah oleh masyarakat yang membutuhkan jasanya. Karena sangat dibutuhkan, sementara monopoli dipegang kuat, maka yang namanya pungli (pungutan liar) luar biasa merajalela. Jasa pelayanan yang tarifnya sudah ditentukan pemerintah, ketika dijual ke masyarakat seperti dilelang saja. Zaman toh tak bisa langgeng, arus perubahan deras sekali menerjang. Ketika orde baru ambruk, mau tak mau tembok monopoli jebol juga. Munculah pesaing yang memberikan pelayanan sangat agresif dengan harga dan mutu layanan yang prima. Maka kelengerlah perusahaan tersebut. Pegawai pemerintah betul-betul sulit membedakan antara tugas dengan kekuasaan. Tugas yang harus dilakukan dianggap kekuasaan, sementara permintaan jauh melampau persediaan, maka lahirlah pungli.</p>
<p>Bagaimana sikap masyarakat tentang hal ini? Pada dasarnya masyarakat timur (Asia) bersikap sangat toleran. Masyarakat tidak terlalu kaku menjalani hubungan kemasyarakatan. Tidak seperti masyarakat barat yang kaku dan harus sesuai dengan kaidah hukum. Di Asia orang tidak keberatan memberikan kelonggaran (space of tolerant) berupa ekspresi rasa terimakasih jika layanan publik diberikan dengan harga yang rasional dan mutu yang terbaik. Tetapi ketika harga ditentukan semena-mena karena menguasai monopoli, maka harga melambung tinggi dan mutu pelayanan menjadi buruk, akibatnya rakyat kecewa berat. Reformasi, kemajuan ekonomi, kebebasan berpendapat sama sekali belum menyentuh dan mengurai ruwetnya pelayanan publik. Padahal pelayanan publik itulah yang paling dekat menyentuh hati rakyat. Bagi calon (pemimpin) yang akan berancang-ancang untuk pemilihan yang akan datang, inilah kesempatan emas untuk dihampiri.</p>
<p>Cerita di atas hanyalah sebuah contoh, disekeliling anda pastilah banyak sekali contoh yang bisa ditemui. Carilah departemen yang memberikan pelayanan publik, misalnya perhubungan, kesehatan, perdagangan, kependudukan, dan lain sebagainya. Belum lagi di DPR yang merupakan epicentrum kekuasaan. Jarum penunjuk sudah jauh meninggalkan angka ratusan juta dan sudah menyentuh angka ratusan milyard.</p>
<p>Birokrasi yang semestinya menjadi rel malah menjadi barikade pelayanan publik. Presiden Megawati dulu saking jengkelnya, menyebut birokrasi seperti tong sampah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyebut birokrasi sangat menjengkelkan. Gambaran nyata buruknya pelayanan publik, karena salah menerapkan ambisi.</p>
<p>Ambisi mungkin yang membuat manusia hidup, tetapi ketika ambisi mendominasi nafsu menguasai, dan tak mengindahkan norma kesantunan kultural, yang terjadi adalah kesewenang-wenangan yang menghancurkan pranata sosial. NGONO YA NGONO, NING AJA NGONO adalah bahasa Jawa yang terjemahan bebasnya “begitu ya bolah-boleh saja, tetapi mbok jangan kelewat batas”, adalah ekspreksi kesantunan kultural ketimuran yang memberi ruang kelonggaran dalam menjalankan pelayanan publik. Tetapi sangat tidak patut ketika kelonggaran itu berubah menjadi “<strong>harus ada persetujuan <em>ingsun</em>, kalau mau silakan, kalau tidak mau harap minggir, <em>next</em></strong>”.</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/budaya/'>Budaya</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/ngono-ya-ngono/'>ngono ya ngono</a>, <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/space-of-tolerant/'>space of tolerant</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=307&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/ngono-ya-ngono-space-of-tolerant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menonton Pengantin Jawa (3), Bibit, Bobot, Bebet</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/menonton-pengantin-jawa-3-bibit-bobot-bebet/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/menonton-pengantin-jawa-3-bibit-bobot-bebet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 07:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[bibit bobot bebet]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1) dan (2). Ada perihal penting yang perlu diingatkan lik Parmin, tentang ajaran bibit, bobot, bebet kepada pak dan bu Sastro. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian pak Sastro. Bibit, merujuk pada strata sosial dan moral calon besan, serta kesehatan calon menantu. Bobot, mengandung pengertian tingkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=304&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah kelanjutan dari Menonton Pengantin Jawa <a href="http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/29/menonton-pengantin-jawa-1-the-egalitarianism/">(1)</a> dan <a href="http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/30/menonton-pengantin-jawa-2-hipokrit/">(2)</a>.</p>
<p>Ada perihal penting yang perlu diingatkan lik Parmin, tentang ajaran <em>bibit</em>, <em>bobot</em>, <em>bebet </em>kepada pak dan bu Sastro. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian pak Sastro. <strong><em>Bibit,</em></strong> merujuk pada strata sosial dan moral calon besan, serta kesehatan calon menantu. <strong><em>Bobot</em></strong>, mengandung pengertian tingkat pendidikan calon menantu, juga strata ekonomi calon besan. <strong><em>Bebet</em></strong>, dimaksudkan mempertimbangkan latar belakang moral calon besan dan calon menantu. Di kalangan masyarakat Jawa sangat dipahami pepatah <span id="more-304"></span>“<em>Kacang mangsa ninggala lanjaran</em>” yang dalam tataran nasional setara dengan “<em>Jatuhnya buah tidak jauh dari pohonnya</em>”. Tetapi,<br />
semuanya sulit bagi pak Sastro untuk mendifinisikan, karena ia sama sekali hanya mengandalkan cerita mak comblang, yang pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi.</p>
<p><em>Bibit, Bobot, Bebet </em>adalah pemikiran sosial yang hampir musykil dipraktekkan seratus persen. Karena jika hal itu betul-betul dipraktekan, akan banyak jejaka dan gadis yang sulit mendapatkan jodoh. Lagi pula <em>bibit</em>, <em>bobot</em>, dan <em>bebet </em>bukan hak laki-laki melainkan juga hak perempuan. Tetapi hal itu merupakan kesadaran idialis, karena pada prakteknya sampai saat ini hak-hak perempuan (<em>gender</em>) masih jauh panggang dari api.</p>
<p>Hari itu di rumah pak Sastro, lik Parmin merasa perlu mendapat jaminan kemantaban hati Tono untuk memilih Tini putra pak Sejo dari desa Karanganyar. Nampaknya Tono tidak ragu-ragu lagi, dan hanya mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.</p>
<p>Meskipun baru sebagian kecil tugas mak comblang dapat dilaksanakan dengan sukses, namun sudah sepatutnya ia mendapat sebagian imbalan atas jasa itu. Bisa berupa beras, padi, kambing atau uang. Dan itu sah-sah saja. Tidak di desa atau di kota, bahwa kehidupan tidak ada yang gratis. Bukankah mak comblang juga butuh untuk membiayai kehidupan keluarganya. Belum tentu mak comblang juga punya penghasilan tetap, semisal menjadi pegawai kelurahan atau kecamatan,  atau mempunyai sebidang tanah yang bisa menghidupi keluarganya. Dengan begitu roda kehidupan masing-masing orang dapat berjalan dengan sewajarnya.</p>
<p>Ada beberapa jenis tahapan penugasan bagi mak comblang, yang <em>pertama</em>, tugas mak comblang hanya sampai di sini dan selesai. Proses selanjutnya dilakukan sendiri oleh Pak Sastro dan keluarganya serta team suksesnya. Jika ini yang disepakati, maka mak comblang mendapat imbalan final sesuai yang disepakati. Yang <em>kedua</em>, tugas mak comblang sampai pak Sastro selesai melamar Tini calon menantunya. Yang <em>ketiga</em>, tugas mak comblang sampai terjadi pernikahan antara Tono dan Tini. Dengan begitu tugas mak comblang dianggap tuntas alias paripurna. Dalam kisah-kasih ini mak comblang ditugasi sampai terjadi pernikahan antara Tono dan Tini kelak jika memang ada takdir jodoh.</p>
<p>Pagi itu, sudah berkumpul pak dan bu Sastro, lik Parmin, Tono serta beberapa anggota keluarga dan mak comblang untuk berangkat ke rumah pak Sejo. Kepergian ini bertujuan untuk melamar Tini putra pak Sejo dari desa Karanganyar. Rombongan berjumlah sepuluh orang karena keluarga pak Sastro merasa perlu ikut. Diperlukan dua dokar (delman) untuk mengangkut rombongan yang berjarak kurang lebih lima kilometer. Itu pun tidak langsung mencapai rumah pak Sejo, karena harus menyeberang sungai yang sedang banjir. Jadi harus menggunakan “témbo” (perahu penyeberangan). Risiko perahu tumpah dan seluruh penumpang hanyut atau keleleb juga tidak bisa dihindari. Jadi penyeberangan dibagi menjadi dua kloser (kelompok seberang). Memang bisa menyeberang lewat jembatan, tetapi harus ditempuh memutar jauh sekali. Jadi diputuskan menyeberang menggunakan perahu penyeberangan, sementara itu delman pengantar disuruh menunggu sampai acara di rumah pak Sejo selesai. Sama seperti taxi di kota, menunggu itu ada harganya, meskipun tidak ada argometernya. Kebangetan kalau pembaca menanyakan bagaimana menghitung ongkosnya jika tanpa argometer. Di desa semua kehidupan berjalan sangat santun. Tawar-menawar kebutuhan tidak terlalu tajam banget, semua pihak saling memaklumi kebutuhan masing-masing, sehingga kehidupan berjalan sangat harmonis.</p>
<p>Sampai di rumah pak Sejo, rombongan pak Sastro diterima langsung oleh pak dan bu Sejo serta beberapa anggota keluarga. Keramahan khas desa Tegalreja nyata sekali dengan munculnya bermacam-macam hidangan khas desa, seperti, jadah, jenang, kerupuk ketan, roti maha, kacang rebus, pisang rebus, ketela rebus, dan minuman sirup, teh dan kopi bagi para laki-laki. Yang menghidangkan tak terkecuali Tini juga muncul, sambil melirik Tono yang wajahnya kemerahan malu. Ternyata yang menjadi juru bicara keluarga pak Sejo adalah kang Kromo kebayan desa Tegalreja. Kebayan adalah perangkat (pegawai) kelurahan yang tugasnya mengkoordinasikan tugas keamanan desa dari gangguan bahaya. Pengertian bahaya di sini amat luas mulai bahaya pencurian, perampokan, banjir, tanah longsor, kebakaran dan sebagainya. Tugas yang berat memang, tetapi jabatan kebayan juga mendapat imbalan berupa sawah jabatan yang bisa dia garap selama menjabat sebagai kebayan. Berapa luas sawah jabatan bagi kebayan, sangat tergantung seberapa luas sawah milik desa tersebut. Itulah sebagai ganti gaji seperti pegawai kantoran. Dari pihak pak Sastro, yang menjadi juru bicara adalah lik Parmin, paman Tono. Kebetulan lik Parmin adalah orang yang pandai bicara, dan sering menjadi pembawa acara di desa Tegalreja jika ada orang yang punya hajatan seperti mantu atau lainnya. Kalau di TV mirip MC (master of ceremony) begitulah kira-kira, hanya ini kelas lokal dan bayarannya hanya sepiring nasi dan ucapan terimakasih. Itu pun kadang-kadang lupa juga.</p>
<p>Di luar rumah suara kokok ayam jantan dan lenguhan sapi serta embikan kambing ramai bersahutan. Agaknya mereka ikut menyambut gembira bakal ada pembicaraan ke arah kehidupan rumahtangga baru. Bagaimana jalannya pembicaraan kedua keluarga, ikuti terus di OPERA SERBAJAWA.</p>
<p align="right">To be continued.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/tradisi/'>Tradisi</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/bibit-bobot-bebet/'>bibit bobot bebet</a>, <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/pengantin-jawa/'>pengantin Jawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/304/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/304/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=304&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2012/01/26/menonton-pengantin-jawa-3-bibit-bobot-bebet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menonton Pengantin Jawa (2): Hipokrit?</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/30/menonton-pengantin-jawa-2-hipokrit/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/30/menonton-pengantin-jawa-2-hipokrit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 14:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[hipokrit]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah lanjutan dari Menonton Pengantin Jawa (1): The Egaliteranism Terjadi pembicaraan yang hangat di rumah pak Sastro (orang tua Tono) untuk memilih calon isteri bagi Tono. Ada mak comblang, pak dan bu Sastro, lik Parmin dan Tono sendiri. Profil gadis yang ditawarkan hanya mengandalkan cerita mak Comblang belaka dan pas foto hitam-putih 3&#215;4. Ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=302&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah lanjutan dari<a href="http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/29/menonton-pengantin-jawa-1-the-egalitarianism/"> Menonton Pengantin Jawa (1): The Egaliteranism</a></p>
<p>Terjadi pembicaraan yang hangat di rumah pak Sastro (orang tua Tono) untuk memilih calon isteri bagi Tono. Ada mak comblang, pak dan bu Sastro, lik Parmin dan Tono sendiri. Profil gadis yang ditawarkan hanya mengandalkan cerita mak Comblang belaka dan pas foto hitam-putih 3&#215;4. Ada tiga gadis yang ditawarkan mak comblang, semua diceritakan dengan jelas profilnya. Meskipun pak dan bu Sastro ikut nimbrung bicara tetapi sama sekali tidak mendominasi keputusan. Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada Tono untuk memilih. Bahwa Tono mau menikah itu saja sudah sangat menggembirakan pak dan bu Sastro. Karena sulit memilih, dan <span id="more-302"></span>mempertimbangkan keragu-raguan Tono, maka mak comblang menyarankan mendatangi rumah gadisnya untuk melihat lebih dulu. Melihat di sini selain untuk pak dan bu Sastro juga untuk Tono dengan gadis yang dicalonkan. Pilihan pertama yang akan didatangi adalah gadis bernama Tini anak pak dan bu Sejo dari desa Karanganyar, tetangga desa. Sementara itu mak comblang berpamitan, guna menuju rumah pak Sejo di Karanganyar, memberitahukan bahwa akan ada tamu pada beberapa lagi.</p>
<p>Pada hari yang disepakati, berangkatlah rombongan 5 orang terdiri dari Tono, pak dan bu Sastro, lik Parmin dan mak comblang, menuju rumah pak Sejo di desa Karanganyar. Rombongan naik dokar (delman), sementara Tono naik sepeda. Di rumah pak Sejo rombongan diterima pak dan bu Sejo, dan beberapa orang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai kerabat pak Sejo. Agar berjalan hangat dan penuh keakraban, pertemuan dipandu oleh mak comblang, yang selain luwes dalam pembicaraan juga pandai membuat pembicaraan berjalan akrab dan penuh gelak tawa. Intinya bahwa kedatangan pak dan bu Sastro ingin berkenalan, sekaligus memperkenalkan anaknya yang bernama Tono yang juga ingin berkenalan dengan anaknya pak Sejo yang bernama Tini.</p>
<p>Pembaca yang budiman, perhatikan bagaimana pak Sejo memperlihatkan Tini anaknya. Tini anak pak Sejo tidak serta-merta di panggil ke ruang tamu lalu disuruh bersalaman dengan Tono. Cara ini di pedesaan dirasa sangat fulgar dan tidak etis. Melainkan menggunakan teknik lain yang lebih santun. Tini disuruh menyuguhkan minuman dan beberapa hidangan kepada rombongan, dengan begitu Tono (dan pak/bu Sastro) dapat melihat sekilas profil fisik calon pasangannya nanti. Apakah Tini disuruh bersalaman dengan Tono, sama sekali tidak! Momen sekilas itu sudah mencukupi bagi Tono dan orang tuanya mendapat gambaran secara fisikal calon pasangannya. Tini pun dapat dengan sekilas melihat calon pasangannya kelak. Hipokrit? Sama sekali tidak! Ini adalah sistem sosial yang santun. Masing-masing keluarga terjaga kehormatannya.</p>
<p>Setelah pertemuan dirasa cukup, maka pamitlah rombongan keluarga pak Sastro untuk pulang. Sekali lagi pertemuan hanyalah perkenalan. Tidak ada kesepakatan apa pun, tidak ada janji apa pun, tidak ada ikatan apa pun. Masing-masing keluarga masih dalam posisi bebas. Proses ini disebut “<strong>nontoni</strong>”. Nonton artinya melihat. Masing-masing keluarga melihat secara fisikal bakal calon besan dan menantunya kelak, jika ada takdir jodoh.</p>
<p>Tak dinyana di tengah jalan Tono nyeletuk. Pak sudahlah itu saja. Nggak usah ke mana-mana lagi. Serentak seluruh rombongan bersorak gembira. Bagaimana kelanjutan ceritanya, baca terus di SERBAJAWA.</p>
<p align="right">TO BE CONTINUED.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/tradisi/'>Tradisi</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/hipokrit/'>hipokrit</a>, <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/pengantin-jawa/'>pengantin Jawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=302&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/30/menonton-pengantin-jawa-2-hipokrit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menonton Pengantin Jawa (1): The Egalitarianism</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/29/menonton-pengantin-jawa-1-the-egalitarianism/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/29/menonton-pengantin-jawa-1-the-egalitarianism/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 14:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Saya kabarkan kepada pembaca yang budiman, bahwa keponakan kita, Tono sudah menginjak dewasa. Semenjak lulus dari SMP, Tono tidak sekolah lagi. Tetapi jangan salah sangka, Tono bukan tipe anak yang pemalas atau bodoh, melainkan alasan ekonomi yang memaksa ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Tono tipe pemuda yang rajin bekerja. Ia membantu orang tuanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=298&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kabarkan kepada pembaca yang budiman, bahwa keponakan kita, Tono sudah menginjak dewasa. Semenjak lulus dari SMP, Tono tidak sekolah lagi. Tetapi jangan salah sangka, Tono bukan tipe anak yang pemalas atau bodoh, melainkan alasan ekonomi yang memaksa ia tidak dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Tono tipe pemuda yang rajin bekerja. Ia membantu orang tuanya mengolah sawahnya yang tidak seberapa luas. Bahkan boleh dibilang Tono <span id="more-298"></span>yang sekarang mengerjakan sawah milik orang tuanya. Orang tuanyalah yang karena alasan usia hanya membantu semampunya. Tono bukan tipe anak yang suka menghabiskan waktunya dengan keluyuran naik sepeda motor kesana-kemari sambil menenteng Hp, lalu pasang aksi telepon di muka orang-orang desa. Tono tipe pemuda yang sangat bertanggungjawab kepada orang tuanya dan lingkungannya. Hasil panenan selalu ditabung sebagian entah untuk persiapan apa.<br />
Sementara teman-temannya setiap malam keluyuran dengan sepeda motor, bergoncengan dengan cewek-cewek lalu menonton panggung dang-dut di desa-desa terdekat, Tono malah mengorganisasi penjagaan malam di desanya Tegalrejo. Oleh pak Lurah Tegalrejo, Tono sering dipanggil untuk membantu tugas-tugas kelurahan terutama yang berkaitan dengan kepemudaan seperti olah-raga, keamanan desa, penghijauan lahan, siaga bencana dan masih banyak lagi. Pendeknya Tono adalah tipe pemuda ideal di desa Tegalrejo.<br />
Tetapi di rumahnya, pak dan bu Sastro-orang tua Tono-dalam hati sebenarnya merasa prihatin, melihat anaknya belum tetarik kepada gadis satu pun. Jika ditanya oleh pak dan bu Sastro, Tono selalu mencoba menghindar dengan mengalihkan pembicaraan. Tidak kehilangan akal, orang tua Tono meminta bantuan pamannya lik Parmin untuk membujuk Tono agar bersedia kawin dengan gadis pilihannya. Meskipun Pak dan Bu Sastro adalah produk tradisi lama dan tinggal di pedesaan, namun jiwanya sudah menganut kesetaraan (egalitarianism). Selain prinsip hidup, juga sebagai tawaran (teaser) agar Tono segera mau dinikahkan. Jika Tono mau dengan pilihan orang tuanya ya syukur, kalau tidak Tono boleh memilih gadis yang diidamkannya. Entah mantra apa yang digunakan, rupanya bujukan lik Parmin manjur, Tono luluh hatinya, dan bersedia dikawinkan.<br />
Persoalan berikutnya muncul, Tono ternyata belum punya pacar (pacangan). Pantas saja, soalnya waktunya dihabiskan mengolah sawah dan membantu tugas-tugas kelurahan. Sementara itu baik pak dan bu Sastro maupun lik Parmin juga belum mempunyai gadis pilihan yang sekiranya pantas untuk dijodohkan dengan Tono. Tetapi tidak perlu khawatir karena alam menyediakan sistem yang memadai agar manusia bisa mencari pasangan hidup yang diinginkan. Jika di kota kita mengenal “Biro Jodoh”, di pedesaan pun juga ada sarana sosial sejenis itu, tetapi tidak berbentuk institusional melainkan individual. Orang tua Tono meminta bantuan seseorang yang memang profesinya mencarikan jodoh. Orang tersebut di desa di namakan “congkok” atau “dhandhan” atau “jomblang”. Mungkin namanya sepadan dengan istilah di Jakarta “mak Comblang”. Untuk menjadi mak comblang banyak syaratnya, misalnya pandai bergaul, banyak kenalannya, luas pergaulannya dan lain sebagainya. Mak comblang inilah yang akan mencarikan jodoh yang pantas atau setara dengan kondisi Tono. Tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Tentu saja untuk keberhasilannya nanti, tidak ada yang gratis. Orang tua Tono sudah menyediakan anggaran yang diminta oleh mak comblang. Proses mencarikan jodoh ini di desa disebut “madik”. Tentu saja mak comblang sudah mempunyai data base tentang orang tua mana yang mempunyai anak-anak gadis atau perjaka, meskipun data basenya hanyalah dalam ingatan saja. Jadi ketika ada order untuk mencarikan jodoh, mak comblang tinggal memilah dan memilih yang sesuai dengan kondosi masing-masing calon pasangan.<br />
Singkat cerita, mak comblang sudah menemukan calon pasangan untuk Tono. Tidak satu. Artinya, jika yang satu Tono tidak cocok, bisa memilih yang kedua atau ketiga. Masalahnya baik Tono maupun orang tuanya belum pernah melihat gadis yang akan dicalonkan, maupun kenal dengan orang tuanya. Sementara data base yang dimiliki mak comblang hanya ada di otaknya. Jadi untuk menggambarkan profil calon pasangan Tono, orang tuanya hanya mengandalkan cerita mak comblang saja. Selebihnya adalah takdir. Berbeda dengan biro jodoh di kota yang mempunyai data base berupa riwayat hidup, pendidikan, bahkan foto wajah. Jangan khawatir, para leluhur Jawa sudah menyediakan sistem sosial yang disebut “nontoni”.</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/tradisi/'>Tradisi</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/pengantin-jawa/'>pengantin Jawa</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=298&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/29/menonton-pengantin-jawa-1-the-egalitarianism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi Orang Jawa</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/19/mimpi-orang-jawa/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/19/mimpi-orang-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 13:41:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Siapa pun pasti pernah mimpi, kecuali orang yang tidak pernah tidur (ada nggak ya?). Dan selalu saja ada tafsir mimpi. Namanya juga tafsir, selain sangat samar, selalu ada pengaruh budaya dan lingkungan yang melatabelakanginya. Masing-masing bangsa atau etnis mempunyai tafsir dan pengertiannya sendiri-sendiri tentang mimpi. Dan itu sah-sah saja. Di Jawa, secara umum ditafsirkan, bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=293&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa pun pasti pernah mimpi, kecuali orang yang tidak pernah tidur (ada nggak ya?). Dan selalu saja ada tafsir mimpi. Namanya juga tafsir, selain sangat samar, selalu ada pengaruh budaya dan lingkungan yang melatabelakanginya. Masing-masing bangsa atau etnis mempunyai tafsir dan pengertiannya sendiri-sendiri tentang mimpi. Dan itu sah-sah saja. Di Jawa, secara umum ditafsirkan, <span id="more-293"></span>bahwa mimpi adalah hiasan orang tidur (kembangé wong turu).<br />
Penilitan secara ngilmiah juga belum ada kesimpulan yang memadai sebagi rujukan. Padahal tidak terbilang waktu, tenaga dan dana yang digunakan. Sementara belum ada kesimpulan ngilmiah yang bisa digunakan sebagai rujukan, mungkin tulisan ini dapat memperkaya pengetahuan anda tentang mimpi.<br />
Pembagian waktu. Menurut waktu terjadinya mimpi, dapat digolongkan menjadi tiga bagian. “Titiyoni”, adalah mimpinya orang tidur di waktu sore hari. Artinya belum terlalu malam. Batasan waktu malam menjadi sangat lentur. Mimpi di waktu tidur sore hari, tidak bermakna sama sekali, karena hanya sekedar hiasan tidur. “Gondoyoni”, adalah mimpi yang terjadi waktu tengah malam. Ditafsirkan sebagai tanda-tanda alam, yang untuk menterjemahkannya memerlukan bantuan seorang ahli tafsir mimpi. Mimpi waktu tengah malam umumnya tidak terjadi dalam waktu dekat. Mimpi di waktu menjelang subuh disebut “Puspa tajem”. Mimpi di waktu menjelang subuh dipercaya bakal terjadi dalam waktu dekat. Jika mimpi buruk bakal terjadi buruk, begitu pun sebaliknya.<br />
Pasca mimpi. Ada juga penjelasan mimpi tetapi setelah “kejadian sebenarnya terjadi” dan bisa dikaitkan dengan mimpinya. Disini diperlukan keahlian menafsir mimpinya agar dapat digolongkan dengan istilahnya. “Kacakrabawa” adalah tafsir mimpi yang timbul karena keinginan yang belum terlaksana. Keinginan tersebut selalu muncul dalam pikiran setiap hari. Misalnya, setelah melihat iklan mobil baru di televisi, maka keinginan untuk memiliknya kuat sekali. Begitu kuatnya sampai muncul dalam mimpi. “Kasudarsana” asal kata dari “sudarsana”. Sudarsana artinya teladan atau contoh. “Kasudarsana” adalah mimpi yang betul-betul terjadi seperti contoh yang ada dalam mimpi. Jika mimpi buruk, maka terjadi buruk juga. Begitu pun sebaliknya. “Kadaradasih” adalah mimpi yang benar-benar terjadi dalam waktu dekat. Pengertian waktu dekat sangat lentur, bisa besoknya atau dalam satu-dua hari berikutnya. “Kawasita” dari kata asal “wasita” yang artinya nasehat. Kawasita adalah mimpi yang berisi isyarat dari yang di ”SONO”. Isyarat itu bisa berupa petunjuk atas kesulitan yang kita hadapi, atau tanda-tanda bakal terjadi sesuatu baik pada alam maupun kehidupan.<br />
Mengingat bahwa tafsir mimpi sangat samar dan sangat dipengaruhi emosi yang bermimpi, maka jika anda berminat mengetahui makna mimpi disarankan meminta pendapat ahli tafsir mimpi. Tapi ada satu hal yang ingin saya sarankan, adalah berdoa sesuai keyakinan anda, adalah sesuatu yang dapat diterima secara umum.<br />
Karena mimpi hanya ada dalam tidur, dan tidur mempunyai fungsi istirahat, baik secara ragawi maupun jiwa, maka tidur yang baik adalah tidur yang tidak bermimpi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/budaya/'>Budaya</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/mimpi/'>mimpi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/293/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/293/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=293&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/19/mimpi-orang-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Becik Ketitik Ala Ketara, The Absolute</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/16/becik-ketitik-ala-ketara-the-absolute/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/16/becik-ketitik-ala-ketara-the-absolute/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 16:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ungkapan]]></category>
		<category><![CDATA[Becik Ketitik Ala Ketara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Ungkapan ini sangat familier dikalangan orang Jawa terutama ketika orang memperbincangkan masalah moral atau etika. Terjemahan bebasnya “perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ketahuan juga”. Emas di lumpur betapa pun tetap bernilai tinggi. Sebaliknya besi berkarat betapa pun di bungkus sutera indah tetap rendah nilainya. Perbuatan baik atau buruk, cepat atau lambat akan ketahuan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=289&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ungkapan ini sangat familier dikalangan orang Jawa terutama ketika orang memperbincangkan masalah moral atau etika. Terjemahan bebasnya “perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ketahuan juga”. Emas di lumpur betapa pun tetap bernilai tinggi. Sebaliknya besi berkarat betapa pun di bungkus sutera indah tetap rendah nilainya.<br />
Perbuatan baik atau buruk, cepat atau lambat akan ketahuan, tidak perduli <span id="more-289"></span>siapa atau apa pun jabatan orang yang melakukan. Tidak ada manusia yang mampu memanipulir hukum alam. Masalah baik dan buruk ada dalam mekanisme hukum alam. Sesuatu yang baik tak perlu dipamerkan. Alam yang akan memberitahukan bahwa sesuatu itu baik dan yang lain buruk.<br />
Apakah memperbincangkan masalah baik dan buruk memerlukan tolok ukur. Jawabannya adalah “tidak”. Karena baik dan buruk itu alamiah, artinya ada dalam mekanisme hukum alam. Berbeda dengan memperbincangkan masalah ke”benar”an. Karena kebenaran relatif adanya. Tengoklah di pengadilan. Mereka memperdebatkan kebenaran. Dan keputusannya sangat relatif, yang bermakna kebenaran itu mempunyai perspektif sangat luas. Benar di sini belum tentu benar di sana. Benar sekarang belum tentu benar nanti. Kita menyetir mobil di kiri jalan adalah benar. Itu terjadi di Indonesia, di Malaysia, di Brunei, di Inggris, di India atau di Australia. Bagaimana di negeri lain, pasti di tilang polisi. Makan ikan mentah di Jepang pasti benar karena katanya menyehatkan. Di sini anda pasti muntah. Dulu P4 itu sakral, sekarang, mana ada orang mengingat lagi? Dan masih banyak contoh lainnya. Artinya kebenaran itu terbatas pada ruang dan waktu.<br />
Berbeda dengan baik dan buruk. Batasnya sangat jelas. Membunuh manusia, di mana pun pasti buruk. Menolong orang sakit di mana pun pasti baik. Itulah sebabnya kebaikan dan keburukan bukan perkara yang relatif, melainkan kepastian alam yang absolut.<br />
Dalam kehidupan sehari-hari terutama ketika kita bergaul di masyarakat sering tidak bisa dihindari terjadi benturan kepentingan. Keadaan tersebut kadang bisa berlanjut pada tindakan yang tidak terpuji, misalnya melanggar hukum atau melebihi kepatutan. Betapa pun lihainya kita menutupi dengan dalih demi kepentingan umum, namun cepat atau lambat buruknya akan ketahuan juga. Berpadanan dengan peribahasa Indonesia “Sepandai-pandai membungkus, yang busuk berbau juga”.<br />
Menjadi penting bagi kita untuk membuat batasan yang tegas tentang masalah “kebaikan” dan “kebenaran”. Kebenaran adalah relatif, sedangkan kebaikan adalah hukum alam yang absolut sifatnya. Hukum alam tidak mengenal, pangkat, jabatan, gelar akademis, gelar bangsawan, gelar kerohanian, keyakinan yang dianut manusia, dan lain sebagainya. Kebaikan tidak bisa ditutupi, kelak akan menyatakan diri jika waktunya datang. “Becik ketitik ala ketara” adalah hukum alam yang absolut.</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/ungkapan/'>Ungkapan</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/becik-ketitik-ala-ketara/'>Becik Ketitik Ala Ketara</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=289&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/16/becik-ketitik-ala-ketara-the-absolute/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kupu-kupu Putih</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/14/kupu-kupu-putih/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/14/kupu-kupu-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 06:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kupu-kupu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Ia hanya membawa ramuan daun sirih dan kapurnya untuk dikunyah nanti. Sehari-hari ia hanya duduk di tepi sungai dekat kuburan sambil mengunyah sirih. Angin semilir menyeka pelan-pelan keringatnya. Daun-daun pohon trembesi berbisik lembut melantunkan senandung ketentraman, sementara gesekan pohon bambu menimpali, mengatur irama. Riak gemuruh air sungai menjadi latar nyanyian alam tepi sungai. Bu Mariyah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=285&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ia hanya membawa ramuan daun sirih dan kapurnya untuk dikunyah nanti. Sehari-hari ia hanya duduk di tepi sungai dekat kuburan sambil mengunyah sirih. Angin semilir menyeka pelan-pelan keringatnya. Daun-daun pohon trembesi berbisik lembut melantunkan senandung ketentraman, sementara gesekan pohon bambu menimpali, mengatur irama. Riak gemuruh air sungai <span id="more-285"></span>menjadi latar nyanyian alam tepi sungai. Bu Mariyah berteduh di bawah pohon trembesi yang rindang, duduk di rerumputan sambil mengunyah sirihnya.<br />
Namun ketentraman tepi sungai itu tidak membuai hatinya, meskipun ia hanya duduk saja menanti. Sesekali matanya tajam memandang ke arah tengah sungai yang mengalir deras, mengamati onggokan apa saja yang hanyut. Sesekali napasnya tertahan sebentar, lalu terlepas lega, “ternyata bukan, bukan, bukan dia”. Jantungnya berdebar keras melihat onggokan yang tersangkut di pucuk pohon bambu yang roboh ke tengah sungai. Wajahnya memerah tegang, matanya memandang dengan nanar, mengamati tubuh yang tersangkut di pohon bambu itu. Ia berusaha berdiri dengan bertopang lututnya yang bergetar. Posisi tubuh mayat itu tertelungkup, sudah tidak berkepala, menggelembung, dan sebagian tubuhnya sudah dimakan ikan atau hewan sungai lainnya.<br />
Ia bernapas lega lagi, dan terduduk di rerumputan sambil memijit-mijit lututnya. Lemas seluruh badannya menyaksikan pemandangan seperti itu jika ada mayat yang hanyut lewat. Satu hal yang ia hapal, mayat yang hanyut di sungai itu selalu tidak berkepala dan dalam posisi tertelungkup.<br />
Bukan-bukan juga dia, karena bu Mariyah hapal betul baju dan celana yang ia gunakan sewaktu berpisah dulu. Celana hitam dan baju kotak-kotak. Celana itu, ia sendiri yang menjahit untuknya. Sedang baju itu juga hasil tenunnanya sendiri. Jadi ia hapal betul motif kotak-kotaknya. Di desanya tenunan kasar seperti itu disebut kentèl. Memang kasar, tetapi itu lebih terhormat daripada compang-camping. Ekonomi memang susah. Setiap hari harga-harga bahan pangan terus naik tanpa pernah berhenti. Kemiskinan menyebar di mana-mana, hampir merata di seluruh pelosok negeri.<br />
Manakala senja tiba ia pelan-pelan beranjak dari duduknya dengan membawa perlengkapan sirih, pulang meninggalkan tepi sungai itu. Daun-daun bambu gemeresak tersampar sandal jepitnya. Semburat sinar senja menyongsong lakunya. Rumah tua berlampu pelita telah menanti. Bu Mariyah hari ini telah menyelesaikan ritual penantian entah sampai kapan. Sehari-hari selalu itu saja kegiatannya. Lapar memang, tetapi mengunyah sirih lumayan menenteramkan perutnya yang keroncongan. Tiba di rumah bukan makan yang ia tanyakan, melainkan “apakah ada kabar tentang dia”. Anak-anaknya hanya menjawab dengan nada pelan atau menggelengkan kepala sambil merunduk.<br />
••••••<br />
Lintang kemukus itu muncul antara jam 3.00 dinihari sampai ufuk di timur merona. Sudah berhari-hari, dan semua orang di negeri ini menyaksikan dengan penuh cemas. Bencana apa yang akan menimpa negeri ini. Tanda-tanda akan datangnya malapetaka sudah nampak di mana-mana. Harga-harga setiap hari melangit tak bisa dikendalikan. Kelaparan merata hampir disegala lampisan masyarakat. Setiap hari para pemuda-pemudi selalu berdemo sambil menyanyikan lagu-lagu yang membela rakyat dan memusuhi para orang-orang kaya. Kaya pada waktu itu dianggap barang haram. Pegawai pemerintah mendapat jatah beras tiap keluarga delapan kilogram. Tunjangan anak diberikan kepada seluruh keluarga berapa pun anaknya. Oleh karena itu muncul pemeo banyak anak banyak rezeki. Tetapi jangan tanya seperti apa mutu berasnya. Selain masih banyak gabahnya, juga kadang tercampur dengan ulat beras. Sampai-sampai pegawai pemerintah diberi nasi bulgur, yang konon, di negara asalnya bulgur itu makanan kuda. Hanya pegawai pemerintah yang mendapat jatah seragam, itu pun kain dril dengan mutu yang amat rendah. Pegawai pemerintah sering membolos karena harus mengikuti demo (unjuk rasa) menuntut keadilan dan kemakmuran. Banyak diantaranya bukan atas kesadarannya sendiri, tetapi karena dipaksa oleh atasannya yang menjadi aktivis suatu partai. Jika tidak mau jangan harap mendapat kenaikan pangkat atau jabatan. Urusan pelayanan kepada publik sudah barang tentu terbengkelai. Prestasi suatu perusahaan milik pemerintah bukan diukur dari pencapaian produk atau keuntungan yang bisa dihitung dengan neraca, tetapi lebih kepada loyalitasnya kepada partai. Tak terkecuali para kepala desa dan nasib rakyatnya. Kelaparan yang merajalela tidak dipertimbangkan bagi prestasi rakyatnya, tetapi lebih kepada berapa kali dia bisa mengerahkan rakyatnya untuk berdemo atau membuat panggung hiburan yang sebenarnya hanya berisi hujatan kepada kaum borjuis. Hampir semua jenis kegiatan seni hiburan telah dikoopatsi oleh kepentingan partai. Dengan maraknya hampir semua kegiatan seni hiburan di masyarakat yang pada dasarnya hanya untuk kepentingan politik, maka permusuhan diantara kelompok-kelompok tidak bisa dihindari. Perbedaan paham, perbedaan orientasi politik, perbedaan keyakinan hanya melahirkan rasa permusuhan. Berbeda artinya musuh. Dan musuh harus dimusnahkan dari muka bumi. Artinya harus dibunuh. Tidak ada ruang sedikitpun untuk tenggang rasa atau toleransi. Melihat orang berbeda pendapat rasanya seperti melihat setan paling terkutuk dari neraka.<br />
Bu Mariyah sudah beberapa tahun ini menjanda dengan menghidupi lima orang anaknya. Tiga orang sudah berumah tangga sendiri, dua masih belum berumahtangga. Meski menjanda, hidup bu Mariyah bisa dikatakan tidak dalam kekurangan, meskipun juga tidak bisa dikatakan sangat kaya. Pensiunan pegawai negeri mantan suaminya yang bekas kepala kantor juga menjadi penopang hidup seluruh keluarga. Belum lagi peninggalan sawahnya yang cukup luas, ditambah usahanya sendiri membuka toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan keluarga. Meskipun ditinggal pak Suharso-suaminya-bu Mariyah tidak terus terlarut dalam kesedihan. Cucunya yang gembriyah menjadi penghibur yang tidak ada habis-habis setiap hari. Bu Mariyah baru limapuluh tahun umurnya ketika ditinggal suaminya. Jaman dulu umur segitu sudah banyak cucu bukanlah mengherankan. Karena kawin muda adalah sesuatu yang biasa. Anak banyak juga bukan barang yang aib, karena jaman dulu belum ada istilah keluarga berencana. Belum ada berbagai alat kontrasepsi. Anak banyak toh membawa rejeki sendiri-sendiri. Dengan umur limapuluhan bu Mariyah masih nampak cantik, apalagi kulitnya yang kuning bersih. Namun sudah menjadi tekad yang kuat, bahwa ia tidak akan kawin lagi. Hidupnya hanya akan dicurahkan untuk menuntaskan dua anaknya, yang satu masih gadis dan yang bungsu laki-laki masih duduk di klas tiga SMA, Suharsono namanya. Mirip nama ayahnya. Tetapi takdir tidak bisa ditolak, Suharsono dibawa massa, karena dituduh menjadi aktivis suatu onderbouw partai. Sampai kini belum juga pulang, sementara setiap hari, mayat mengambang tanpa kepala terus mengalir di sungai dekat kuburan itu.<br />
Sebelum mengambil air wudu di sumur di samping rumahnya menjelang shalat subuh, bu Mariyah lama selalu memandangi langit yang aneh. Mengapa langit aneh? Mengapa langit mamancarkan sinar seperti asap yang memanjang. Sejatinya itu adalah gugusan rasi bintang, yang entah berapa ratus tahun sekali garis edarnya akan mendekati garis edar bumi, sehingga bisa dilihat oleh manusia di bumi. Fenomena alam yang dikatakan para ahli sebagai gugusan rasi bintang berekor atau lintang kemukus bermakna lain bagi rakyat di pedesaan. Para leluhur sudah menafsir dengan tegas bahwa Yang Maha Kuasa akan mendatangkan malapetaka. Miris hati bu Mariyah melihat tanda-tanda alam itu. Suara adzan yang membangunkan lamunan bu Mariyah, lalu cepat-cepat menuju surau dekat rumahnya.<br />
••••••<br />
“Sudahlah bu, jangan diteruskan menunggu di tepi sungai itu” pinta anaknya perempuan dengan mengiba.<br />
“Bagaimana aku tahu Suharsono masih hidup” jawab ibunya.<br />
“Ya kita berdoa saja, mudah-mudahan dia masih hidup, dan sehat-sehat saja.<br />
••••••<br />
Tigapuluh tahun berlalu, keadaan negeri sudah agak lumayan meskipun belum sepenuhnya aman bagi warganya. Kesulitan warga untuk mengungkapan perbedaan masih sangat kental. Pemahaman kebenaran masih dikooptasi oleh institusi negara. Rakyat belum juga mengerti membedakan antara negara dan pemerintah. Yang dipahami negara juga pemerintah dan pemerintah juga negara. Atau mungkin sengaja dirancukan agar rakyat tidak mempunyai peluang untuk berbeda. Tidak saja pakaian dan baju yang diseragamkan, otak pun diseragamkan. Menyatakan perbedaan dianggap merongrong kewibawaan pemerintah dan dianggap subversib.<br />
Bu Mariyah sudah sangat sepuh, tinggal bersama anak-anaknya dan melanjutkan kehidupan di desa itu. Sampai saat itu, bu Mariyah belum mendapat kabar tentang keadaan Suharsono, masih hidup atau sudah mati. Setiap hari Jumat Legi, dengan rajin bu Mariyah membuat sesaji berupa kembang setaman dan membakar kemenyan. Kembang setaman diletakkan di meja belajar Suharsono waktu masih di SMA dulu. Selalu ada kupu-kupu putih terbang menghampiri sesaji itu.<br />
“Duh Gusti, ampunilah dosa anakku.”</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/kupu-kupu/'>kupu-kupu</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/285/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/285/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=285&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/14/kupu-kupu-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimasada dan Pancasila</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/14/kalimasada-dan-pancasila/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/14/kalimasada-dan-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 06:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wayang Parodi]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimasada]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Malam sangat sunyi, semua kehidupan di pertapaan Saptohargo sudah terlelap tidur. Gelap malam itu berselimut kabut pegunungan yang beku, bahkan angin pun malas bertiup. Gerimis hujan sejak sore tadi masih menyisakan basah yang dingin di dedaunan dan di atap pertapaan. Para cantrik sudah terlelap tidur karena kelelahan latihan beladiri siang tadi. Dengan tertatih-tatih di kegelapan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=280&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam sangat sunyi, semua kehidupan di pertapaan Saptohargo sudah terlelap tidur. Gelap malam itu berselimut kabut pegunungan yang beku, bahkan angin pun malas bertiup. Gerimis hujan sejak sore tadi masih menyisakan basah yang dingin di dedaunan dan di atap pertapaan. Para cantrik sudah terlelap tidur karena kelelahan latihan beladiri siang tadi. Dengan tertatih-tatih di kegelapan <span id="more-280"></span>Resi Manumanasa berjalan menuju tempat pemujaan. Menjadi kebiasaan Resi Manumanasa untuk bersemedi di tengah malam untuk mendapatkan konsentrasi yang tinggi menuju Dewa di Kahyangan. Dupa telah dibakar, dan asapnya mengepul lurus ke atas mengikuti melesatnya konsentrasi yang maksimal. Kidung-kidung puja mantera dilantunkan lirih, merayap di gelapan malam, menyeruak pintu Selamanangkeb yang menjaga kuat Kahyangan Jung Giri Kaelasa.<br />
Kaget Sang Hyang Guru penguasa jagad raya, segera memanggil patih Kahyangan Bathara Narada dari Sidik Pangudal-udal.<br />
“Wahai kakang Narada, apa yang menjadi sumber kekisruhan di Kahyangan saat ini?. Jika ada batu yang bercahaya di bumi, ambilah untuk pengganti umpak balai Marcukandha tempat duduk ingsun kakang. Jika ada manusia yang congkak ingin menyaingi kekuasaan ingsun di jagadraya, ambilah, dan masukkan ke kawah candradimuka agar menjadi kerak yang menyala selamanya di neraka jahanam sana”.<br />
“Wahai pukulun (yang mulia), tentulah tidak ada keraguan di hati pukulun tentang kejadian di jagadraya ini. Keadaan yang kurang menyenangkan ini adalah akibat doa manusia suci di bumi yang bernama Resi Manumanasa. Ia manusia berbudi yang patuh dan sangat taat menyembah paduka pukulun”.<br />
“Lalu apa yang dia minta dalam doanya?<br />
“Resi Manumanasa sangat sedih melihat kehidupan di negara Wiratha yang penuh dengan perbuatan biadab manusia. Mulai dari peperangan, kekejaman kemanusiaan, perusakan lingkungan, selingkuh politik, narkoba, korupsi, dan lain sebagainya. Oleh karenanya ia memohon kepada paduka, agar keadaan ini bisa segera hilang dari bumi Wiratha dan rakyat menjadi tenteram kembali.”<br />
“Ingsun akan memenuhi doa yang baik dari Manumanasa, tetapi semua itu tidak ada yang gratis dan harus ditebus dengan perjuangan. Kakang Narada saya mohon turun ke bumi menemui Manumanasa. Ambilah putranya yang bernama Satrukem. Dia akan saya utus untuk mengusir Prabu Kalimantara yang akan meminta Dewi Supraba. Prabu Kalimantara telah membuat kekacauan di Kahyangan dan hingga sekarang belum mau pulang ke negaranya jika tidak membawa Dewi Supraba.<br />
**********<br />
Betapa terkejutnya Resi Manumanasa ketika Bathara Kala menyampikan perintah Sang Hyang Guru.<br />
“Wahai pukulun, bukankah anak saya Satrukem masih muda belia, meskipun sudah pandai bela diri ia belum punya pengalaman berperang. Apa lagi ia akan berhadapan dengan Prabu Kalimantara yang sangat ganas dan sakti itu. Jangankan anaknya yang masih ingusan, sedangkan para Dewa yang terkenal sangat sakti saja terkalahkan oleh Prabu Kalimantara. Lebih baik saya saja yang melawan Prabu Kalimantara. Saya sudah kenyang dengan kehidupan dunia, jika pun saya mati dalam perang, bukankah masih ada anak saya yang melanjutkan kehidupan saya.”<br />
Bathara Narada tertawa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Manumanasa.<br />
“Saya beritahu rahasia yang belum engkau ketahui. Selain Satrukem pandai bela diri, dia sangat sakti melebihi engkau wahai Manumanasa. Tidak ada manusia di bumi yang bisa mengalahkan Satrukem. Oleh karena itu janganlah engkau khawatir.”<br />
Semar yang ada di dekatnya juga menyarankan agar lebih percaya kepada dewa. Karena jika Satrukem mati dalam perang, bukankah dewa akan menghidupkan kembali. Selain itu Semar juga mengingatkan akan prestasi Satrukem yang baru saja menyapu bersih perolehan medali emas olahraga beladiri di SeaGames ke 26 di Palembang yang lalu. Mulai dari Karate, Yudo, Pencak Silat, Taekwondo, Tinju, Gulat, Panjat Pinang, Balap karung, Balap Kelereng.<br />
Dengan berat hati Resi Manumanasa menyerahkan putranya yang bernama Satrukem untuk melawan Prabu Kalimantara, dengan catatan Semar harus ikut mendampingi. Semar tidak keberatan karena selain bisa rekreasi, ia akan mendapat upah cek pelawat dan bisa menginap di hotel berbintang di Kahyangan.<br />
**********<br />
Peperangan antara Satrukem dan Prabu Kalimantara sangat dahsyat dan mengerikan. Para dewa sangat ketakutan dan menyingkir agak jauh. Justru para wartawan dari segala media massa yang nekat mendekati zone pertempuran dan menyiarkan secara live peristiwa itu. Mulai dari TURI, TV ONDE-ONDE, TV METROPOLITAN, SI NENEN, BIBIK SI dan AL JAMELA semua menyiarkan breaking news nya.<br />
Akhirnya pertempuran itu mencapai klimaksnya, ketika Satrukem mulai terdesak, ia mengambil anak panah dan mengarahkan tepat ke Prabu Kalimantara. Panah yang ujungnya menyala seperi lidah api itu segera melesat memotong leher Prabu Kalimantara. Seketika Prabu Kalimantara jatuh tersungkur, gugur sebagai kesatriya sejati mempertahakan harga dirinya. Tetapi keajaiban terjadi. Seketika Kahyangan gelap gulita bercampur petir menggelar memekakkan telinga disertai hujan badai dahsyat. Ketika cuaca telah cerah kembali terjadi keanehan. Jazad Prabu Kalimantara hilang, dan berubah menjadi pataka (sejenis bendera) yang berisi lima nasehat.<br />
Semar yang mengetahui kebingungan Satrukem menjelaskan, bahwa lima nasehat itu disebut KALIMASADA. Kalimasada berasal dari kata KALI MAHA USADA. KALI artinya jaman, MAHA artinya sangat, USADA artinya penyembuh. Terjemahan bebasnya Kalimasada adalah berisi nasehat atau pentunjuk untuk memperbaiki keadaan masyarakat yang rusak di dunia. Kalimasada itulah yang dicari bapaknya Satrukem yaitu Resi Manumanasa untuk menjadi cara atau petunjuk memperbaiki kerusakan negara Wiratha. Oleh karenanya Satrukem dinasehatkan agar segera membawa Kalimasada ke bapaknya Resi Manumanasa di pertapaan Saptohargo.<br />
***********<br />
Pembaca yang budiman, orang Jawa sangat terobsesi dengan cerita wayang. Kisah Kalimasada lama terekam dalam memori kehidupan orang Jawa hingga sekarang dan bertransformasi menjadi rujukan politik, ketika bangsa ini mengalami kebingungan saat baru saja merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda, bangsa ini masih terpecah-belah belum bersatu-padu. Oleh karenanya para bapak pendiri bangsa (founding father) ini mencari semangat pemersatu bangsa. Diketemukanlah cerita Kalimasada tersebut. Agar bisa diterima oleh seluruh etnis di Nusantara, maka disusunlah lema pemersatu bangsa yang disebut Pancasila, yang roh ajarannya berasal dari Kalimasada. Diharapkan dengan Pancasila bangsa Indonesia punya rujukan pemersatu. Dan itu berhasil hingga sekarang. 1 Ketuhanan yang Maha Esa. 2 Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3 Persatuan Indonesia. 4 Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan dalam permusyarawaratan/perwakilan. 5 Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukankah pembaca sudah lupa? Saya juga kok. Makanya harus membuka dulu buku cucu saya.<br />
Transformasi dari Kalimasada menjadi Pancasila sangat dekat runutan sejarahnya. Oleh karenanya ketika Kalimasada diterjemahkan menjadi kalimat lain selain Pancasila, menjadi terasa aneh. Keanehan terjadi lantaran ada paradoks keyakinan dan sejarahnya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/heritage/wayang-parodi/'>Wayang Parodi</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/kalimasada/'>Kalimasada</a>, <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/pancasila/'>Pancasila</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=280&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/14/kalimasada-dan-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilir-ilir (2), The Humanism</title>
		<link>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/07/ilir-ilir-2-the-humanism/</link>
		<comments>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/07/ilir-ilir-2-the-humanism/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 00:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbajawa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tembang]]></category>
		<category><![CDATA[Ilir-ilir]]></category>
		<category><![CDATA[Sunan Kalijaga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbajawa.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang saya ceritakan di permulaan tulisan (Ilir-ilir 1), tembang ilir-ilir ini konon karya Sunan Kalijaga yang sedang mengajarkan agama Islam di tanah Jawa. Kepiawaian Sunan Kalijaga, selain ilmu agama Islam ialah kesenian Jawa. Oleh karenanya ketika mengajarkan agama Islam beliau menggunakan pendekatan kesenian. Banyak sekali peninggalan Sunan Kalijaga baik yang berupa benda-benda bersejarah seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=276&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang saya ceritakan di permulaan tulisan <a href="http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/03/ilir-ilir-1-the-character-building/">(Ilir-ilir 1)</a>, tembang ilir-ilir ini konon karya Sunan Kalijaga yang sedang mengajarkan agama Islam di tanah Jawa. Kepiawaian Sunan Kalijaga, selain ilmu agama Islam ialah kesenian Jawa. Oleh karenanya ketika mengajarkan agama Islam beliau menggunakan pendekatan kesenian. Banyak sekali peninggalan Sunan Kalijaga baik yang berupa benda-benda bersejarah seperti gamelan dan karya sastra yang kental <span id="more-276"></span>dengan nuansa seni. Sesuai dengan jamannya, karya sastra tersebut tidak langsung menohok kepada persoalan yang sedang mengemuka di masyarakat, melainkan menggunakan tamsil atau perumpamaan. Sehingga untuk memahaminya, memerlukan ketrampilan tersendiri. Salah satunya adalah tembang “ilir-ilir” ini. Karena berupa tamsil maka terbukalah multi tafsir sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing orang. Seperti pada tulisan terdahulu, saya menafsir dengan tema kebangsaan, dibawah ini saya coba menafsir dengan tema kemanusiaan (humanisme).<br />
Apa yang mendorong saya, adalah suramnya suasana kemanusiaan di belahan dunia manapun.<br />
Inilah syair “ILIR-ILIR” selengkapnya.<br />
“lir-ilir, lir-ilir tanduré wis sumilir; Sadarlah wahai anak-anakku, sinar cerah telah menerangi duniamu,<br />
tak ijo royo-royo tak sengguh temantèn anyar; Dunia ini sejatinya penuh dengan persaudaraan dan perdamaian,<br />
cah angon-cah angon penèkna blimbing kuwi; Bangunlah jembatan persahabatan betapa pun sulitnya,<br />
lunyu-lunyu penèkna kanggo masuh dodot ira; Karena persahabatan adalah modal kesucian hidup,<br />
dot ira-dot ira kumitir bedhahing pinggir; Betapa pun perjuangan itu memerlukan proses yang tidak mudah,<br />
dom ana-jlumat ana kanggo séba mengko soré; Oleh karena itu bersatulah untuk menyongsong masa depanmu,<br />
pupung padhang rembulané, pupung jembar kalangané; Selagi tersedia kesempatan, selagi tersedia semangat,<br />
ya suraka aaa …. aaa… surak horéééé….”; Sinar kemenangan itu telah menantimu, berupa persaudaraan dan perdamaian yang mensucikan.<br />
Semakin canggih ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, semakin canggih pula digunakan untuk merendahkan nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti persaudaraan, perdamaian dan toleransi.<br />
Sementara perebutan sumber-sumber ekonomi semakin keras dan abai dengan nilai-nilai kemanusiaan, pada saat yang sama terjadi pula eskalasi kekerasan dengan dalih membela doktrin, tetapi berselubungkan hak-hak azasi manusia. Hak-hak azasi manusia yang sejatinya untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan justru berbalik menjadi alasan pembenaran melakukan kekerasan. Paradoks yang membingungkan.<br />
Masa depan kemanusiaan dunia yang suram seperti inilah yang ditangkap radar hati Kanjeng Sunan Kalijaga, dalam menerawang kehidupan manusia di bumi kelak sepeninggalnya. Sebagai seorang sastrawan di jamannya, maka menjadi kewajiban beliau untuk mengingatkan kepada anak cucunya melalui banyak sekali karya sastranya, agar selalu memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalani kehidupan. Baik yang sedang di kekuasaan, maupun yang sedang menjadi rakyat biasa.<br />
Nilai-nilai kemanusiaan sejatinya tidak dikungkung dalam kitab-kitab suci dan disimpan dalam rumah-rumah suci, tetapi harus ditebarkan di ladang-ladang kehidupan dengan laku suci. Itulah yang dilakukan Kanjeng Sunan Kalijaga yang sekarang kita sebut HUMANISME.</p>
<br />Filed under: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/category/tembang/'>Tembang</a> Tagged: <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/ilir-ilir/'>Ilir-ilir</a>, <a href='http://serbajawa.wordpress.com/tag/sunan-kalijaga/'>Sunan Kalijaga</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbajawa.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbajawa.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbajawa.wordpress.com&amp;blog=5232162&amp;post=276&amp;subd=serbajawa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbajawa.wordpress.com/2011/12/07/ilir-ilir-2-the-humanism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a36f22b773fa8cad4b05755a54d8ef3?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serbajawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
