Keris (7): Cerita Legenda Keris

Ini adalah kelanjutan dari keris (1), (2), (3), (4), (5) dan (6)

KERIS EMPU GANDRING

Pada jaman pemerintahan Singosari (sekarang Malang, Jawa Timur) terdapatlah seorang empu yang sangat terkenal bernama Empu Gandring. Atas pesanan Ken Arok, Empu Gandring membuat keris yang sangat kuat. Begitu kuatnya sehingga Empu Gandring memerlukan waktu cukup lama membuatnya sehingga melebihi Continue reading

Keris (6)

Ini adalah lanjutan dari Keris (1), Keris (2), Keris (3), Keris (4) dan Keris (5).

Jika anda ingin memiliki keris yang baik, ada empat kriteria yang seyogyanya dipedomani, yaitu tangguh, sepuh, wutuh dan tayuh. Idealnya empat itu menjadi rujukan, namun tentu saja tidak mudah mendapatkan keris yang dapat memenuhi empat kriteria tersebut.

Tangguh merujuk pada zaman pembuatan dan asal-usul keris tersebut. Dengan menelusuri pembuatannya, kita bisa mengetahui empu siapa yang Continue reading

Keris (5)

Ini adalah kelanjutan Keris (1), Keris (2), Keris (3) dan Keris (4)

Tayuh. Memasuki dunia perkerisan semakin intens ketika membicarakan tema Tayuh, karena kita akan dibenturkan pada masalah keyakinan dengan sikap rasional. Keyakinan, kita dapatkan dari cerita turun temurun oleh para nenek moyang kita, sementara cara berpikir rasional kita dapatkan dari bangku sekolah, yang pada dasarnya menuntut adanya pembuktian secara Continue reading

Keris (4)

Ini adalah kelanjutan dari Keris (1), Keris (2) dan Keris (3).

Pasikutan.  Dalam dunia perkerisan pembaca juga akan diperkenalkan istilah pasikutan. Yang dimaksudkan adalah kesan selintas, ketika memandang bentuk keris. Kesan ini tentu saja hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah lama berkecimpung di dunia perkerisan. Bagi orang awam tentu sulit. Kesan sekilas yang muncul seperti penggambaran sosok postur manusia, seperti luwes, kaku, dhemes (manis mempesona), wingit (beribawa), kemba Continue reading

Keris (3)

Ini adalah lanjutan dari Keris (1) dan Keris (2)

Bentuk. Pada umumnya keris Jawa mempunyai dua bagian utama, yaitu bilahnya (wilah, curiga) dan selongsongnya (wrangka). Pada bilahnya, secara umum dibagi menjadi empat bagian utama yaitu bilah (wilah), ganja (penopang), mendhak (cincin penguat) dan hulu (ukiran-tangkai). Demikian pun pada selongsongnya dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu awak-awak (tubuhnya), gandar (pelindung bilah) dan pendhok (logam kuningan Continue reading